Pedagang Kain

itil service

Menjadi pedagang kain bukanlah cita-cita masa kecilku tapi itulah kini yang kulakukan bersama suamiku untuk hidup. Kami berjualan tidak dalam kios di sebuah pasar, biasanya saat weekend kami menuju tempat keramaian dengan mobil van berisi kain dan menggelar lapak disana.

Biasanya juga kami berjualan di pasar malam, itu sebabnya kami berdua jarang pulang karena berjualan di pasar malam kadang jauh dari rumah. Kami berdua tidur di dalam van yang berisikan kain dagangan kami. Itu sebabnya aku jadi terbiasa melakukan hubungan seks dengan suamiku di atas van, di pinggir jalan atau di siang hari di pasar malam saat orang-orang yang bekerja di pasar malam tidur.

Penghasilan kami berjualan lumayan agak besar, itu sebabnya kami betah jualan kain.


Pembeli kain kami biasanya perempuan, beberapa di antaranya perempuan muda yang berpenampilan seksi. Suamiku sangat senang melayani mereka dengan ramah. Seusai pasar tutup, pastilah habisnya aku disetubuhi suamiku dengan sangat bernafsu.

Sering juga pembeli pria mendatangi lapak kain kami. Aku disuruh suamiku berpenampilan seksi untuk menarik perhatian pembeli pria itu, kalau bisa dadaku dikeluarkan dari leher baju yang kupakai atau, celana jeans yang ku pakai harus sependek mungkin kalau perlu sampai kelihatan belahan pantatku. Supaya laris dagangan katanya.

Bila ku perhatikan, karena pakaian ku saat melayani pembeli selalu seksi, sering kali aku dilecehkan para pembeli laki-laki. Mereka ambil peluang pegang tanganku lah, menyiku buah dadaku, menggesekkan penisnya ke pantatku sambil memperhatikan kain yang kami jual. Setiap aku merasakan penis seorang pembeli menggesek di pantatku, aku diarahkan suami supaya cool. Dia sendiri seolah membiarkannya, tidak mau tahu pantat istrinya didorong penis pengunjung lapak yang tidak semuanya membeli, sebagian hanya lihat lihat saja.

Sehabis dilecehkan begitu, nafsu syahwatku yang naik jadi selalu ingin sentuh dan menaiki penis suamiku. Permainan seks kami pasti panas sepulangnya.

-------------

Aku ingat satu hari seorang sopir truk mengetuk van kami karena mendengar erangan ku saat orgasme. Sebelumnya saat kami mulai bersetubuh, truknya belum datang itu sebabnya aku berani mengerang agak keras saat mendapat klimaks syahwat sampai seseorang mengetuk van kami.

Suamiku bergegas memakai celana jeans nya sedangkan aku masih telentang di lantai van yang dipenuhi kain, hanya ada ruang kecil untuk rebahan disana.

"Ada apa?" tanya suamiku.
"Aku ingin nyobain" pinta sopir itu.

Suamiku masuk van menanyaiku, "Sopir truk ingin maen sama Arki" suami memberi tahuku.
"Abang!!! masa Arki disuruh maen sama orang lain?"
"Kalau Arki mau, abang gak papa kok"
"Dia sendirian?"
"Sendirian"

Aku bingung, sambil melap air mani suami yang meleleh dari memek, aku menatap mata suamiku dalam gelap.
"Abang gak kenapa-napa?"
"Abang gak masalah"
"Emmm yaudah panggil sini, tapi sekali ini aja"

Suamiku keluar van, menyatakan setuju. Tiba-tiba si sopir nanya suamiku, "Berapa?"
"Berapa?" tanya suami ku lagi tidak mengerti.
"Berapa duit?"

Suamiku masuk menanyaiku di dalam van, "Dia nanya Arki mau minta berapa duit katanya?"
Tak pernah sebelumnya aku berpikir akan dapat bayaran. Aku diam sejenak pasang tarif "Dua ratus aja bang, err sekali ini"

Suamiku keluar memberi tahu si supir, "Dua ratus ribu"
Orang itu mengeluarkan dua lembar merah dari dompet menyerahkan pada suamiku. Dia masuk van merangkak naik ke atas aku yang sudah meringkuk telanjang.

Aku dan sopir langsung main dengan kilat, dia menarik turun celana dan celana dalamnya, kontolnya sudah mengeras seperti kayu saat mulai menindihku. Besar dan panjang, tanpa pemanasan lagi tanpa berkata-kata dia arahkan kepala kontolnya pada lubang memekku yang menunggu.

Liang memekku lancar menerima kontol si sopir karena sudah disiram air mani suamiku tadi.

"Gede banget mas" bisikku ke telinganya. Dia mengayunkan selangkangannya pada pangkal pahaku pelan. Aku mengangkat kaki melingkarkan pada badannya supaya kontolnya bisa lebih dalam menyodoki memekku.

Entah apa yang diperbuat suamiku di luar van. Aku tak peduli. Cuaca di luar dingin karena sudah malam, ditambah lagi AC van namun aku dan si sopir memacu birahi justru merasa panas. Sekujur badanku berkeringat, paha yang mengangkang mulai terasa pegal, karena si sopir bertahan cukup lama menggenjot badanku.

"Terus massssss Arki mau nyampe lagiiiii"

Orang itu mempercepat entotannya. Aku hanya diam menggigit bibir dengan kepala mendongak. Memekku dihentak dengan tempo cepat terasa sangat sesak dijejali batang kontol sopir truk. Habis dientot begini pasti aku nanti gak bakal bisa berdiri tegak. bagian bawah tubuhku serasa mati rasa, namun syaraf di sekitar memekku menggelitikku menyetrum dengan kenikmatan karena trus digenjot kontolnya yang keras.

Aku benar-benar kelojotan saat meraih orgasme yang ketiga. Tanganku memeluk erat punggungnya. Suaraku meninggi, pasti terdengar suami di luar. Saat itu diiringi ujung kontol si sopir menumpahkan air main pada memekku dalam-dalam. Panas dan berkali-kali menembaki bagian dalam memekku.

Setelah kontolnya berhenti bucat, si sopir masih memeluk badanku, membiarkan penis besarnya mengecil dalam liang memekku beberapa saat. Dia bangkit dari atas badanku yang kusut. Aku membelai tangan kekarnya.
"Ganas banget mas" aku memujinya.
Dia lalu mencabut kontolnya dari memek milikku yang dibanjiri air mani.
"Gak suka?" tanyanya pendek.
"Puas" jawabku singkat. Dia membetulkan celananya kembali.
"Tunggu Mas..." aku memanggilnya pelan. Dia menolehku sebelum keluar van.
Aku ciumi bibirnya, "Siapa namanya Mas, Arki ingin tau biar nanti bisa ketemu lagi"
Satu tangannya meremas buah dadaku, satunya lagi meremas pantatku.
"Ilyas" jawabnya, lalu dia mengambil buku tulis di dekatku menuliskan nomer HPnya sebelum keluar van.

Saat suamiku kembali masuk, aku bersender di van.
"Arki gak papa?" sambil suamiku menyalakan mesin mobil van.
"Abis-abisan bang, Arki dikerjain sama sopir tadi" jawabku.
"Kita pulang yah" tanyanya.
"Abang nyetir sendiri ya, Arki tidur sini"
Aku tidur beretelanjang dengan kaki mengangkang di belakang van. Lelehan air mani Ilyas masih mengalir keluar celah memekku. Aku tak akan lupa dirinya.

--------------
Esok harinya aku smsi Ilyas, namun dia tak merespon.
Seminggu kemudian, baru dia menelponku. Saat itu suamiku ke pasar membeli kain untuk di jual kembali. Aku sendirian di rumah lalu Ilyas datang ke rumahku setelah kuberikan arahan tempat tinggal. Dia membawa serta temannya, aku kembali digagahinya. Kali ini dengan dua kontol yang keras memuaskan syahwatku.

Aku dibuat mereka orgasme beberapa kali sampai-sampai sangat kecapekan. Penis mereka berduapun berkali-kali menumpahkan benih calon anak dalam memeku, mulutku serta badanku. Sehabisnya aku mengantongi 500.000 dari Ilyas dan temannya.

itil foundation

itil video review