Gara-Gara Usus Buntu

itil service

Bagian 1
Namaku Kinanti. Seperti gadis Jawa kebanyakan, kulitku putih langsat dengan wajah yang ndak bisa dibilang cantik, biasa-biasa saja. Aku tidak berani memirip-miripken wajah sama artis, ndak pantes. Tapi kata Ibuk dan teman-temanku, aku itu manis, apalagi kalau tersenyum, soalnya ada lesung pipit di pipi kiri, kenes katanya. Aku sendiri ya ndak berani komentar, karena buatku, segini saja sudah cukup. Bagiku, walau sederhana, hidup itu indah begini adanya.

Cerita ini bermula waktu aku sakit usus buntu. Waktu itu tiba-tiba saja perutku berasa mulas-mulas tidak tahu kenapa. Awalnya aku pikir PMS biasa, tapi sepertinya tidak! Kali ini sakitnya luar biasa! perutku sampai mual-mual dan aku muntah berkali-kali!


Sebenarnya aku sudah takut kenapa-kenapa, karena waktu itu aku sedang merantau jauh dari orang tua. Waktu itu aku sedang kuliah semester 2 di kota S, sementara orang tuaku tinggal di desa kecil yang tidak tertera dalam peta.

Untungnya di kota S ada kerabatku yang bekerja sebagai dokter, beliau biasa kupanggil Oom Bram, saudara sepupunya Ibuk. Waktu pertama kuliah di sini, beliaulah yang mengurusi segara keperluanku dari mencari tempat indekos sampai mengantarku mendaftar ulang universitas.

Sore-sore setelah mandi aku datang ke tempat praktek Oom Bram dengan menumpang becak. Sebenarnya Oom Bram bukan dokter umum atau spesialis penyakit dalam, beliau adalah dokter spesialis kandungan. Aku sempat khawatir bertemu temanku ketika harus mengantri di ruang tunggu yang penuh dengan ibu-ibu hamil, bisa–bisa mereka menyangka aku hamil di luar nikah akibat salah pergaulan! Untungnya aku cepat-cepat dipanggil masuk karena mbak-mbak yang jaga loket tahu aku keponakan dari Dokter Brahmanto Mangunsubroto.

“Hai, Kinanti, tambah manis saja kamu...” kata Oom Bram begitu melihat wajahku yang segar sehabis mandi. Sore itu aku mengenakan rok panjang sederhana, dengan kemeja kelabu bunga-bunga yang baru diseterika. Wajahku cuma dipulas bedak tipis, dan rambutku yang hitam basah sehabis keramas dibiarkan tergerai sepundak dengan jepit plastik warna merah hati. Bagiku, lotion Citra sudah cukup wangi, dan aku tidak perlu yang lebih dari itu.

Aku tersenyum, menyalami Oom Bram dengan mencium tangannya.

Oom Bram adalah bapak-bapak berbadan tegap berusia 40-an tahun dengan jas putih rapi yang sangat bagus. Rambutnya sudah ada yang memutih, tapi aku selalu merasa kalau waktu muda beliau pasti seganteng artis sinetron Adam Jordan atau Jeremy Thomas!

Udara terasa dingin karena pendingin ruangan, dan aku memperhatikan sekitarku: diruanganannya ada banyak poster tentang ibu-ibu hamil, juga meja periksa dengan penyangga kaki yang mungkin untuk memeriksa pasien, ya namanya saja spesialis kandungan, to?

“Kinan sudah punya pacar?” tanya Oom Bram tiba-tiba.

Aku memang terlambat dewasa dalam hal asmara di banding teman-temanku. Apalagi dibanding dengan Mbak Kirana, kakak perempuanku yang cantik dan jago berdandan! Bukannya tidak tertarik kepada pria, tapi menulis cerita pendek jauh lebih menarik bagiku daripada terlibat dengan drama romansa kawula muda.

Aku terdiam lama, sehingga Oom Bram mengulangi pertanyaannya, dan aku hanya menggeleng malu ditanyai seperti itu.

Oom Bram tertawa. “Wah, sama kaya adikmu si Kelvin... aduh, anak saya itu pemalu sekali... hahaha...” Oom Bram malah bercerita soal anaknya.

“Perut Kinan sakit, Oom...” potongku cepat, mencoba mengembalikan fokusnya dengan sopan.

Oom Bram menepuk jidatnya sambil terkekeh-kekeh, menyilakanku duduk.

“Kamu ndak telat mens, to?”

“Aduh, Oom ini gimana... perut saya benaran sakit...”

Oom Bram manggut-manggut, mewawancaraiku seperti dokter pada umumnya. Menanyaiku macam-macam, sambil sesekali menanyakan kabar Ibuk dan Mbak Kirana di kampung, juga kabar Bapak yang sedang bekerja di Saudi. Aku hanya menjawab sebisanya.

“Wah, sepertinya memang usus buntu,” kata Oom Bram. “Sekarang masih sakit?”

Aku menggeleng.

“Lha, Piye to?” kening Oom Bram langsung berkerut.

“Iya, semenjak masuk ruangan ini mendadak ndak sakit. Kenapa ya Oom?”

“Ya sudah nanti kita periksa, ya.”

Aku menurut saja waktu ditidurkan di meja periksa, lalu Oom Bram mengukur suhu tubuhku, memeriksaku dengan stetoskop. Lalu tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Oom Bram terus memeriksaku, tapi telepon genggam yang sebesar batako itu terus berdering sampai lima kali.

Oom Bram menggerutu sendiri. “Maaf yo, Dik. Tak angkat disik. Sepertinya panggilan penting.”

“Ndak papa Oom,” jawabku kalem.

“Oh iya, bajunya dibuka sekalian yo, Dik. Biar cepet.” kata Oom Bram sambil menerima telepon di luar ruangan.

Aku mengangguk. Sebenarnya aku ragu-ragu dengan perintah Oom Bram, tapi kuputuskan untuk melepas seluruh pakaianku saja, nurut orang tua.

Kemeja kelabu manis dengan motif kembang-kembang kecil yang apik kubuka satu persatu kancingnya, hingga payudaraku yang putih mulus menyembul lucu dari atas cup BH berwarna krem. Aku melipat kemejaku rapi di atas kursi, sebelum melepas sepasang sandal kenip, lalu disusul rok panjangku, hingga sepasang paha jenjang dan mulusku terpampang indah.

Ya, jangan membayangkan yang ndak-ndak dulu to, soalnya badanku ya ndak seseksi Nafa Urbach atau Cornelia Agatha. Badanku montok, mengkel kata orang Jawa, dengan pinggul berisi, dan payudara yang sekal yang putih mulus karena aku rajin merawat diri. Bagiku, seksi tidak lalu berarti harus memilki tubuh seperti para gadis sampul, tapi mensyukuri dengan cara merawat titipan Tuhan sebaik-baiknya.

Aku berdiri hanya dengan berbalut pakaian dalamku, rikuh, sehingga tubuhku nampak semakin menggemaskan karena kulitku yang segar sehabis mandi mulai merona kemerahan. Aku bersiap melepas kait bh-ku, membebaskan sepasang payudara yang bulat dan menggemaskan dengan puting warna coklat tua dengan aerola yang besar. Sedikit berdebar-debar jadinya, karena sekarang aku tinggal mengenakan celana dalam tanpa apa-apa lagi! tapi demi kesehatan aku memberanikan diri melepas penutup terakhir tubuhku.

Hati-hati, aku mengangkat tungkai-tungkai jenjangku, melepas celana dalamku dalam satu gerakan anggun, sehingga kewanitaanku yang ditumbuhi bulu-bulu halus kini tak tertutup apa-apa lagi. Aku melipat pakaian dalamku, meletakkannya bersama pakaianku.

Jantungku semakin berdebar-debar kencang, karena aku sekarang telanjang bulat tanpa mengenakan selembar benang pun lagi. Aku melipat kedua lenganku di depan dada, menaikkan pahaku di atas kursi, meringkuk gemetar karena tanpa busana membuat AC terasa lebih dingin dari biasa. Adem!

Lama aku menunggu, waktu pintu tiba-tiba dibuka. Anak muda seumuranku masuk ruangan, sedikit terkejut melihatku yang telanjang bulat.

“Oh.” Hanya itu yang terucap dari mulutnya.

Cepat-cepat aku menutup dada dan kemaluanku dengan tangan saking malunya. Huh! Siapa anak itu! Kenapa tiba-tiba masuk sih! Batinku kesal.

“Dik, piye? Wis disiapke alat-alatnya?” Oom Bram tiba-tiba masuk ruangan, terus ikut melongo melihatku bugil.

“Dok... ini... anu... nganu... anu...” katanya sambil garuk-garuk kepala, dia sepertinya bingung menjelaskan situasi yang terjadi.

Oom Bram menepuk jidatnya lalu tertawa lebar. Beliau menjelaskan kepadaku bahwa yang dibuka seharusnya bawahannya saja.

Aduh, aku langsung minta maaf, sambil menunduk-nunduk malu. Bodohnya aku, dasar wong ndeso! Batinku kesal kepada diriku sendiri.

Aku hendak mengenakan kembali pakaianku, tapi keburu dicegah Oom Bram. Tak apa-apa katanya, sama saja, malah lebih mempermudah pemeriksaan.

Aku yang anak desa hanya menurut dengan polos. Aku didudukkan kembali di atas meja periksa, kali ini aku bertelanjang bulat. Posisiku sekarang jadi serba salah, karena aku harus menutupi puting dan daerah intimku dengan tangan. Sungguh, aku tidak menyangka harus telanjang di depan orang lain selain pamanku, yakni anak muda yang baru aku ketahui kalau dia adalah perawat yang magang di sini.

Oom Bram memerintahkan si perawat magang untuk meletakkan kakiku di atas penyangga kaki. Jadi posisiku sekarang tidur telentang di atas meja periksa, mengangkang dengan paha yang terbuka lebar di atas penahan kaki yang biasa untuk ibu-ibu melahirkan.

Aku langsung menunduk malu dengan wajah memerah, malu sekali karena sekarang posisiku mengangkang dengan kemaluan yang terpampang ke seluruh ruangan. Sebisanya aku menutupi kedua payudara dan bagian intimku dengan tangan, karena malu sekali rasanya sampai aku ingin menangis karena si perawat selalu curi-curi melihat ke arah rambut kemaluanku yang mencuat dari sela-sela jari!

Oom Bram menjelaskan pemeriksaan yang akan dilakukan, dan mendengarnya seluruh tubuku langsung lemas. Kemudian beliau kembali memerintahkan perawatnya untuk meninggikan posisi penyangga kaki, sehingga sekarang pantat dan pahaku terangkat sampai menempel dengan buah dadaku, dan lututku menekuk sampai pundak!

Oh, tidak! Aku langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, saking malunya karena merasa lubang anus dan memekku sekarang sudah sangat terekspos menyembul tembem di antara kedua paha yang terangkat! Benar-benar saru dan memalukan!

Oom Bram mengenakan sarung tangan karet, dia melumuri sedikit ujung jarinya dengan gel pelumas.

“Oom mulai ya...”

Aku mengangguk sambil menggigit bibir, tegang, takut, malu semua campur aduk jadi satu, membayangkan betapa sarunya posisiku ini!

Oom Bram berlutut di depanku dan aku bisa merasakan dengusan nafasnya di antara selangkanganku. “Dik tolong disenterke, yo...” katanya. Dan si perawat berdiri di belakang Oom Bram, menyenteri kemaluanku. Dasar mesum! aku yakin di balik maskenya dia tersenyum melihat memekku yang rapat dan menggemaskan!

Aku merasakan belahan pantatku dikuak pelan, dan sepasang jari hangat yang bergerak menembus lubang anusku. Aduh! aku menggeliat sedikit, geli sekali rasanya! Apalagi ketika dia menggerakkan jarinya yang licin memutar, meraba otot-otot anusku dalam satu gerakan lembut.

“Ooooooh...” geli sekali rasanya! aku terpaksa mendesah pelan, sambil menutup bibirku yang gemetaran, malu sekali kalau sampai aku berteriak seperti pemain film porno!

“Tenang...,” katanya lagi. “Kalau kamu tegang, Oom akan kesulitan memeriksa.” Kata Oom Bram yang jarinya terjepit, diempot-empot oleh otot-otot anusku yang kembang kempis keenakan.

Aku mengangguk panik. “Maaf... Oom...” aku sangat malu jadinya. Aku mencoba memejamkan mata, tergolek pasrah di atas meja periksa. Udara begitu dingin karena pendingin ruangan, namun tubuhku kini basah kuyup karena peluh, membuat kulitku yang putih berkilat-kilat seksii.

Aku merasakan jari Oom Bram menekan ke arahku, meraba dengan lembut lubang anusku yang imut, menggerakkan ujung jarinya yang licin dalam gerakan memutar di tepiannya. Aiiih! Geli! Geli sekali sampai ke ubun-ubun!

Sekujur tubuhku seperti disetrum! dan langsung menggeliat diiringi desahan nafas dari bibirku. Apa boleh buat aku kembali tegang hingga otot-ototku kembali berkontraksi, namun kali ini dengan sigap Oom Bram memijat bagian antara labiaku dengan jempolnya, membuatku melengguh pelan dan otot-ototku mendadak lemas.

Aku tidak tahu apa yang dilakukannya pada kemaluanku, karena rasanya enak sekali! Aku hanya bisa menatap tak berdaya dengan bibir yang membuka pasrah sewaktu jari telunjukknya yang licin itu bergerak memasuki lubang anusku, slllllph.... slllppp.... ooooh geli... ngilu sekali rasanya! Aku ingin berteriak, tapi yang bisa keluar dari mulutku hanya dengusan-dengusan lemah...

“Nngggh.... nggggh..... hhhhh...hhh-h...”

“Sssssst... tenang...” bisik Oom Bram lagi.

Aku benar-benar tak berdaya. Aku membayangkan betapa memalukanya posisiku saat ini. Wajahku pasti sudah merah merona karena malu bercampur nafsu. Saat ini aku telanjang bulat dengan tubuh berkilat penuh keringat, sementara pahaku yang jenjang pasti sedang mengangkang dalam posisi yang sangat-sangat memalukan, tertekuk ke atas seperti orang melahirkan. Aku yakin belahan memek montok yang kini becek dan mengkilat, bisa bebas dilihat oleh oleh perawat magang yang wajahnya semakin birahi.

Aku tak habis pikir, mengapa ia bisa sebegitu bernafsunya padaku? Padahal aku hanya perempuan yang tidak seberapa cantik dibanding kakakku, dan aku tidak begitu pandai berdandan jika dibandingkan teman sebayaku.

Namun saat ini aku menyadari ada seorang pemuda yang hanya bisa melongo melihat posisiku yang sangat merangsang dan memalukan, dan aku bisa melihat jakunnya naik turun mengagumi seperangkat memek dan pantat mulus dan seksi yang terpampang di depannya dengan posisi yang saru sekali! Aku merasa begitu dipermalukan... tapi entah kenapa setengah diriku mulai menikmati rasa malu ini...

Diperhatikan seperti ini membuat wajahku semakin memerah karena malu bercampur nafsu, dan aku hanya bisa menatap sayu ke arah si perawat dengan bibir basah yang terbuka dan mengundang. Wajahku semakin memerah dan kututupi dengan telapak tanganku. Oh, tidak! Mendadak aku benar-benar merasa malu pada diri sendiri yang ikut menikmati perlakuan yang memalukan ini!

“Oom masukin, yah...” Oom Bram memposisikan jempolnya di antara belahan labiaku yang mulai basah, bersiap memasukkan telujuk dan jari tengahnya... “

Aku ingin menjawab, tapi mulutku cuma bisa membuka dan tak bersuara. Sebisanya aku mengangguk tegang dan menarik nafas panjang, merasakan sensasi geli bercampur ngilu waktu tangan Oom Bram bergerak masuk ke dalam liangku yang licin dan mengkeret keenakan...

“Uunnnnnnh!!!” mau nggak mau bibirku mulai mengeluarkan erangan seksi, yang buru-buru kututupi dengan telapak tangan. Malu sekali rasanya kalau aku sampai-sampai ketahuan keenakan dibeginikan! Saru!

“Sakit? Kalau sakit bilang, ya.”

“Enggak... Oom... enak...” gelengku lemah waktu jari jemari Oom Bram yang licin bergerak masuk, meraba otot dinding-dinding anusku.... uuuuh... sempit... tapi enak banget.... apalagi waktu ujung jarinya tidak sengaja mendorong dinding otot vaginaku dari arah belakang, menyentuh sebuah titik (yang di kemudian hari aku baru tahu itu namanya g-spot!)

Mataku langsung membeliak nanar, aku ingin berteriak tapi mulutku hanya bisa membuka dan mengeluarkan erangan disertai enggahan-enggahan nafas yang luar biasa seksi!

“Nnggggggh..... nggggghh.....”

Aku menggeleng-geleng panik, menatap nanar ke arah Oom Bram, memohon belas kasihan agar ia menghentikan siksaan birahi ini! malu sekali aku kalau memekku harus digejol-gejol oleh pamanku sendiri! Benar-benar ora ilok! Saru! Namun aku melihat wajah Oom Bram nampak begitu serius, lempeng. Sepertinya dia benar-benar serius melakukan pemeriksaan sampai-sampai tidak menyadari siksaan birahi yang saat ini sedang kualami.

Setengah mati aku menahan diri, hingga pantatku yang telanjang sampai menggeliat-geliat nikmat... dan pinggulku ikut menggelinjang naik turun tidak karuan mengikuti gerakan tangan Oom Bram yang menggaruk masuk keluar.., slllph.... slppph.. slllllp... malu... tapi.... enak... banget....

“Hah... h... hhh.... udah... udah...“aku mengga-menggap keenakan dan tanganku memeluk erat-erat pahaku, karena aku merasa di dalam tubuhku ada sesuatu yang menggelegak dan sebentar lagi hendak meledak!

“Kalau sakit bilang ya,” kata Oom Bram lempeng, seolah tidak peduli dengan siksaan birahi yang aku alami.

“Ahh... aaaah... iyaah... sakit Oom.... sakit... aduh.... “

“Di sini... sakit...?”

“Iya... aduh.... aduh... ampun Oom... jangan disitu... sakit... sakit... aaaah... aaaaaah...” jeritku kesakitan. “aah... aaaaah...” aku menjerit panjang, entah karena rasa sakit atau karena mendadak tubuhku yang mendadak mengejang dan lendir tahu-tahu mengalir keluar dari belahan tembem di antara pahaku yang sedang menekuk sampai pundak.

“Dik? Kinan? Kamu kenapa?!” Oom Bram, nampak panik melihat mulutku yang menganga, dan tubuh telanjangku yang basah kuyup mulai kejang-kejang.

Oom Bram cepat-cepat menarik tangannnya keluar, hingga menimbulkan suara “flop!” tapi bersamaan dengan itu cairan bening menyembur kencang dari dalam memekku, menyemprot ke wajah Oom Bram yang belum berhenti terkejut. “Nnnnnnh... nnnnnnh....” TIDAK! Aku ngompol!!!! aku mengeden panik dengan wajah merah padam, mengatupkan bibir kuat-kuat agar erangan puncak kenikmatanku tidak terdengar sampai luar ruangan. Seluruh tubuhku bergemetaran hebat, pantat, paha yang terangkat-angkat sampai pundak sampai beradu dengan payudaraku yang membusung-busung, semuanya mendadak menegang, mengejang, menggelinjang dalam chaos!

“Aaaah... aaaaah.... aaaaaah.....hhhh... hhh....” aku terenggah-enggah dengan wajah sayu, merona merah dan basah kuyup.

Tubuhku berkilat-kilat karena keringat dan lelehan lendir yang menetes di paha dan pantatku yang mulus.

Setelah bisa bernafas dengan normal, barulah aku mengumpulkan kembali kesadaran dan kewarasanku. Perlahan badai birahiku mereda, dan aku mendadak tersadar telah melakukan kebodohan!

Tidak!

Aku mendapati Oom Bram dan si perawat magang yang cuma melongo kelakuanku yang mirip lonte!

Aku hanya mampu menutup mukaku karena luar biasa malu! Bagaimana bisa aku sampai mendesah-desah seperti lonte dan mengompol di depan dokter cuma gara-gara pemeriksaan anus? Apa yang nanti dikatakan keluargaku bila kami kumpul trah nanti?

Oom Bram berdehem, berusaha tetap cool dan menjaga wibawa-nya. Karena aku tahu dia pasti tak bermaksud jahat. Dia memerintahkan si perawat magang membersihkan ceceran lendir yang meleleh-leleh di pantat dan pahaku, sementara dia sendiri melepas sarung tangannya dan duduk di mejanya.

Posisi kaki diturunkan, dan aku turun sambil menutupi puting dan kemaluanku, menunduk-nunduk ketakutan, tak berani menatap wajah Oom Bram. Dia pasti menyangkaku seorang wanita mesum!

“Kamu itu!” Oom Bram berkata, menatapku dalam-dalam.

“Maaf... Oom maaf...” ucapku menyesal.

“Nafsu itu harus ditahan! Coba bayangkan kalau ini bukan Oom! Bayangkan kalau sampai terdengar keluar! Ini bisa jadi kasus!” suaranya terdengar berwibawa dan menggetarkan. “Padahal itu cuma pemeriksaan medis standar!”

Aku cuma menunduk, sedih sekali rasanya, malu sekali rasanya. Aku baru sadar kalau Oom Bram adalah dokter terhormat yang berasal dari trah ningrat, dan tak akan melakukan hal memalukan seperti itu.

Ia menggeleng-geleng keheranan sambil menepuk jidat. “Baru kali ini ada pasien yang sampai orgasme saat pemeriksaan anus!”

“Maaaf... Ooom... bukan maksud saya...” Aku mulai menangis, dengan tangan gemetaran aku mengambil pakaianku yang kulipat untuk menutupi tubuhku seadanya.

“Kamu itu... saraf-saraf genitalmu itu memang sensitif.... makannya cepat-cepat cari pacar... ” Oom Bram menjelaskan, kalau memang terkadang ada pasien yang bisa mencapai orgasme saat dilakukan pemeriksaan anus, tetapi tidak banyak. Rasa malu dan takutku perlahan mereda ketika mendengar penjelasan Oom Bram mengenai orgasme yang artinya puncak kenikmatan yang diperoleh saat hubungan suami istri, dan yang muncrat dari memekku tadi ternyata bukan ompol, melainkan cairan kenikmatan, yang biasa disebut squirting.

“Maaf... Oom... “kataku sambil meringis, karena mendadak perutku kembali terasa sakit.

“Kenapa?”

“Perut saya sakit lagi, Oom... sakit sekali malah...” kataku sambil memegangi perut.

Oom Bram manggut-manggut, sambil menuliskan beberapa surat pengantar untukku. “Sepertinya memang usus buntu, kalau harus operasi ndak apa-apa to? Nanti saya yang beritahu Lik Sri,” suara Oom Bram kembali melembut.

Mendengar kata operasi, aku takut setengah mati, tapi melihat perubahan ekspresiku, Oom Bram berusaha menenangkan.

“Ndak Papa... kalau tidak segera diambil, malah berbahaya. Masalah biaya tenang saja,” katanya lagi.

“Iya... aduh... terimakasih... Oom... aduh....” perutku semakin terasa mulas, sakit luar biasa rasanya! Mungkin gara-gara orgasme tadi, usus buntuku jadi bertambah parah! “aduh... aduh...” aku sampai membungkuk-bungkuk sambil memegangi perut dengan wajah yang kesakitan.

“Dik... Dik...” Oom Bram nampak khawatir. “Kamu rebahan lagi saja, to?” ia memerintahkanku yang belum sempat memakai baju kembali rebahan di meja periksa. Aku merintih kesakitan, rasanya seperti ada paku di dalam perutku!

Tubuhku yang telanjang mulai dipenuhi keringat dingin, dan aku merasakan sekujur tubuhku menjadi dingin. “Oom... Sakit Oom... Oom... sakit...” jeritku kesakitan.

“Dik, tolong ditelponken Dokter Frans, minta disiapken ambulans,” perintah Oom Bram pada perawatnya yang mengangguk sigap.

Aku hanya bisa tergolek lemas sambil memegangi perut, sampai aku lupa aku belum berpakaian. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih, aku teringat Ibuk, Bapak, dan Mbak Kirana. Aku benar-benar takut kalau aku kenapa-kenapa dan tidak bisa bertemu dengan mereka lagi

“Ibuk.... Ibuk..... sakit.... tolong....,” rintihku. Aku merasakan kepalaku ringan, dan aku semakin kesulitan mendengar suara di sekelilingku...

“Ibuk.. Ibuk......” suaraku semakin lemah, dan lama-lama aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Pandanganku berkunang dan mengabur, hingga lama-lama aku tidak bisa melihat apa-apa selain warna putih terang....

itil foundation

itil video review