Menggarap Dokter Cina

itil service

Seorang dokter wanita muda keturunan Tionghoa menceramahi Yoga begitu ia masuk ke dalam kamar periksa. Yoga yang merasakan badannya masih sakit, berjalan terpincang hanya bisa diam tidak menjawab.

"Saya perhatikan cuma kalian anak-anak muda asli daerah sini saja yang suka buang masa dengan balap liar. Apa tidak sayang nyawa kalian berbuat begitu?

Dokter muda itu masih terus berceloteh. Yoga berusaha tetap cool dengan celotehan pedas itu. Kalau diikutkan perasaan, hatinya memang panas disindir bergitu. Tapi karena badannya sakit dan lutut serta sikutnya tengah dibalut dengan perban karena terjatuh dari motor maka dia mengambil sikap berdiam.


Yoga teringat peristiwa malam tadi saat dia dan teman-temannya berlomba berbalap motor yang telah distel balap di jalanan malam kota. Nasibnya malang karena tergelincir di tikungan dan badannya terhempas ke jalan aspal yang keras. Badan, lutut dan sikunya memar serta mengeluarkan banyak darah. Nasib baik helm yang dipakainya tidak terlepas tetap melindungi kepalanya, kalau tidak kepalanya mungkin bisa bocor.

Yoga memilih untuk mendapat perawatan di sebuah klinik dokter umum. Dia enggan ke rumah sakit karena para suster di sana pasti akan menyindir hobinya itu. Tapi tak disangkanya, di klinik dokter umum ini pun sang dokter meyinggung-nyinggung hobinya itu. Dokter keturunan cina muda itu sungguh cantik. Dokter ini pantas jadi seorang model, fikir Yoga.

"Duduk, anda sakit apa?" Sapa dokter muda itu.

Yoga berjalan perlahan sambil memandang ke dinding di belakang dokter yang memakai baju pink dan jas dokter warna putih. Di dalam sebuah figura terlihat ijazah dokter ini. Dr. Sinta Angeline Chie.

"Saya sakit di sini dokter," jawab Yoga malu sambil menunjukkan selangkangannya.

"Memangnya kenapa?" tanya sang dokter.

"Terjepit resleting dokter," jawab Yoga terputus-putus menahan malu.

"Coba anda buka celananya dan berbaring di sana," sambil tangannya menunjukkan sebuah tempat tidur kecil yang dijadikan tempat pemeriksaan.

Yoga membuka celana yang dipakainya dan berbaring di tempat tidur pemeriksaan seperti yang diarahkan oleh si dokter Tionghoa tersebut.

Dr. Sinta memeriksa sambil memegangi batang kontol Yoga dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan karet.

"Ini salah kamu sendiri. Kalau saja kamu tidak membuang kulit yang membungkusi kepala penismu ini tentu tidak akan begini jadinya." Dr. Sinta bersuara sambil mengelusi kepala licin kontol Yoga yang lecet.

Yoga berfikir. Salahkah aku karena aku disunat. Dokter cina ini menyalahkan aku karena kulit kulupku telah dibuang.

"Anda tak tau kan, kulit kulup berfungsi untuk melindungi kepala penis. Kalau kulupnya dibuang itu emangnya untuk apa?" Dr. Sinta masih mengomel.

"Saya suka perempuan-perempuan kalian, kepala mereka ditutup dengan baik. Tapi saya tak suka penis kalian, kulit penutup kepala malah dibuang."

Yoga sungguh geram saat kontolnya dihina seperti itu oleh sang dokter. Namun perasaan marahnya tidak ditunjukkan karena lukanya sedang diperiksa. Kalau diturutkan hati mau saja dia terjang dokter cina itu. Malunya semakin menjadi saat sang asisten dokter tersebut senyum-senyum ketika Dr. Sinta terus-terusan mengomel.

"Susi! Suami kamu bersunat juga tidak?"

"Tidak, dokter," jawab Susi yang tampak dari penampilannya berasal dari wilayah timur.

"Kamu suka yang bersunat atau tidak bersunat?" tanya Dr. Sinta lagi.

"Saya tak permasalahkan itu dokter. Asalkan penis itu bisa bangun cukup keras dan bisa memuaskan saya." Jawab Mary ringan.

Yoga geram. Dokter ni mau mengobatinya yang lagi kesakitan ini atau malah mau mengobrol dengan asistennya.

"Saya kalau nikah nanti mau pilih yang tak bersunat," Dr. Sinta berceloteh tanpa rasa malu kepada Yoga yang sedang dirawatnya. Atau dokter amoy ini memang sengaja ingin memojokkan Yoga.

"Kalau ternyata dia bersunat lalu bagaimana dokter?" tanya Susi.

"Sebelum bersedia dinikahi, saya pasti akan periksa penisnya terlebih dulu. Saya perlu uji keperkasaannya."

"Dokter tak permasalahkan nanti saat malam pertama dokter sudah tidak virgin lagi?"

"Sekarang pun saya sudah tak virgin." Oceh mulut tipis dokter muda itu.

Yoga hanya diam saja di atas ranjang pemeriksaan. Perasaan geramnya masih bersisa. Rasa malu dan terhina muncul sepanjang dokter bermata sipit itu berceloteh menganggap rendah kontol miliknya. Sang dokter terus menyapu cairan obat ke bagian kepala kontol yang terluka. Yoga merasa pedih ketika obat tersapukan. Sensasi geli juga ada ketika kapas obat merayap di kepala kontolnya.

"Okay, dah selesai. Penismu ini berukuran kecil sekali. Tak ada perempuan yang suka." Sempat pula dokter muda ini menyepet Yoga dengan sarkas.

Emosi Yoga kembali tersulut bara api. Jikalau dia tidak sedang sakit waktu itu juga dokter cina itu akan diperkosanya. Kata-kata dokter tersebut melukai perasaannya. Yoga merasa terhina.


============================== =====================

"Aku merasa terhina dengan dokter haram sialan itu." Yoga menceritakan kejadian yang menimpanya kepada Reza kawannya seminggu setelah pemeriksaan.

"Lalu sekarang kamu mau ngapain?" tanya Reza.

"Aku mau balas dendam, biar dia rasakan batang kontolku ni," Yoga masih menyimpan amarah.

"Kau mau ikut aku?" tanya Yoga.

"Bolehlah, aku ingin menjajal liang bool tuh amoy."

Jam sepuluh malam itu Yoga dan Reza sedang menunggu di depan klinik Dr. Sinta. Satu persatu asisten dokter tersebut meninggalkan klinik. Sepuluh minit mengamati tampak Dr. Sinta muncul. Dia lagi memegangi kunci untuk menutup kliniknya. Lalu dengan cepat Yoga dan Reza menerobos dan memegangi sang dokter muda dari belakang. Sambil mulutnya dibekap badan dokter tersebut didorong masuk ke dalam klinik.

Yoga dibantu Reza menarik dokter amoy tersebut ke dalam ruang periksa pasien. Lampu dinyalakan terang dan dokter tersebut dibaringkan di atas pembaringan. Yoga mengeluarkan pisau kecil yang disimpan dalam sakunya dan ujungnya dirapatkan ke pipi licin sang dokter.

"Kalau kamu menjerit pisau ini akan menoreh pipimu yang cantik ini." Yoga memberi ancaman kepada Dr. Sinta.

"Kalau mau selamat ikuti saja perintah kami," sambung Reza.

Dengan penuh ketakutan Dr. Sinta mengikuti saja ancaman mereka tanpa berupaya melawan. Dua orang pria loakl yang berbadan kekar ini bisa melakukan apapun kepada dirinya. Yoga memegang erat paha Dr. Sinta yang memakai rok pendek. Dr. Sinta hanya memejamkan matanya saat rok mininya diangkat jemari Yoga keatas. Airmata mulai jatuh keluar dari kelopak matanya saat Yoga kemudian menanggalkan rok yang dipakainya itu sehingga menampilkan paha dan batang kakinya yang amat putih. Yoga menjilati lidahnya terangsang menikmati pemandangan indah di hadapannya.

"Minggu lalu kau menghina burungku. Kau bilang burung bersunat buruk rupa. Kau bilang lagi burungku kecil, tak ada perempuan mau. Sekarang aku mau kau rasakan burung milikku ini."

Dengan perasaan yang masih takut Dr. Sinta mulia teringat pada lelaki di hadapannya. Dr. Sinta masih ingat pemuda yang mengangkang dan dirawatnya disini karena kepala penisnya terjepit resleting. Dr. Sinta lalu mulai menyesal kerana telah menyindir pemuda ini. Tak disangkanya pemuda ini berdendam kepadanya.

Akhirnya celana dalam Dr. Sinta berwarna putih itu telah dapat dilihat oleh Yoga dan Reza. Yoga pun menciumi hujung kaki hingga sampai ke celana dalam Dr. Sinta. Mengeliat-geliat Dr. Sinta diperlakukan begitu. Yoga kemudian menarik turun celana dalam Dr. Sinta dan menampakkan gundukan memek putih yang tertutupi dengan bulu-bulu halus warna hitam dan amat mennggairahkan.

Yoga pun terus mengarahkan mukanya ke celah belahan memek dari Dr. Sinta dan menjilat-jilatnya dengan bernafsu. Mengeliat-ngeliat Dr. Sinta diperlakukan begitu. Memeknya terasa geli dijilati Yoga. Walau pun tanpa kerelaan tapi lidah Yoga yang menyiksa kelentitnya membuat nafsunya membara juga. Sambil menjilat kemaluan Dr. Sinta, tangan Yoga tak henti-henti meraba-rabai paha dan seluruh tubuh Dr. Sinta. Dr. Sinta menjerit-jerit kecil disaat Yoga menghisap biji kelentitnya yang terasa nikmat. Terangkat-angkat pantat Dr. Sinta menahan cobaan tapi nikmat.

Yoga tak pedulikan dengan memek si perempuan sipit yang berbau kencing itu. Mungkin Dr. Sinta tak mencuci memeknya sehabis kencing dengan bersih. Yoga mulai mengganas dan ingin mengerjakan bagian atas tubuh Dr. Sinta juga. Dengan bantuan Reza baju dan beha yang menutupi buah dada Dr. Sinta itu pun ditanggalkan. Buah dada indah Dr. Sinta akhirnya mencuat keluar dan Dr. Sinta kini telah telanjang bulat.

Bibir Dr. Sinta kini menjadi mangsa ciuman Yoga dan jari-jemarinya meremas buah dada padat milik Dr. Sinta. Kelihatan pipi Dr. Sinta yang lembut dan putih itu berubah menjadi kemerah-merahan kelika Yoga makin bertindak ganas. Yoga mulai membuka pakaian dan celana jeansnya. Yoga pun menanggalkan celana dalamnya dan mengeluarkan batang kontolnya yang telah lama mengeras. Batang kontol sepanjang enam inci itu mengganguk-angguk menunggu mangsanya.

"Jangan... tolong jangan lanjutkan..., saya minta maaf," kata Dr. Sinta memohon belas kasihan.

"Sudah terlambat kau minta maaf. Sekarang kau rasakanlah kontol bersunat ku ni." Yoga tertawa kecil.

Yoga mengurut batang kontolnya. Helm bulat warna coklat tua itu berkilat. Sengaja didekatkan ke muka amoy cantik. Dr. Sinta tak menyangka batang penis kecil dan pendek waktu dia periksa minggu lalu dapat tumbuh hingga sebesar itu.

"Sekali kau mencoba kontolku yang sunat ini, kamu akan ketagihan. Rasakan kenikmatannya."

Yoga terus mengangkangkan Dr. Sinta yang tidak berdaya itu lalu kelihatan lubang memeknya terbuka lebar dan siap untuk digarapnya. Yoga tidak menunggu lagi lalu menusukkan batang kontol yang pernah dihina sang dokter cina ke dalam liang memek Dr. Sinta yang masih sempit itu. Yoga merasakan kenikmatan yang tidak terhingga ketika batang penisnya masuk menerobos ke dalam cibai si amoy. Dr. Sinta hanya menutupi mukanya bersamaan Yoga yang telah mampu menguasai dirinya dengan sepenuhnya. "Jleb-jleb-jleb" bunyi cibai milik Dr. Sinta digenjoti Yoga dengan bernafsu.

Reza yang tadinya hanya menonton mulai beraksi karena nafsunya juga ikut membara. Toket milik wanita cina yang sintal itu diremas-remasinya. Ketiak licin dokter amoy itu dicium dan dihirupinya. Cukup wangi ketiak dokter muda ini. Dr. Sinta kegelian saat lidah Reza mulai bolak-balik di kulit ketiaknya yang licin.

Yoga meneruskan aksinya. Batang kontolnya ditarik dari lubang memek Dr. Sinta. Diangkatnya badan dokter muda itu dan diletakkan di lantai. Diarahkan dokter amoy itu supaya merangkak. Kontolnya yang basah dengan lendir cibai Dr. Sinta didorongnya masuk dari belakang. Dr. Sinta hanya mampu mengerang. Terayun-ayun toketnya yang tergantung.

Reza yang mengamati saja tingkah laku Yoga dan Dr. Sinta tak dapat lagi menahan nafsunya. Celananya dipelorotkan dan kontol miliknya yang sama besar dengan milik Yoga berdiri menegang dengan keras. Kontol bersunat itu dipaksakankan masuk ke mulut Dr. Sinta.

"Sekarang hisap juga kontol bersunat milikku. Nanti tentu kau akan merasakan enaknya," usik Reza sambil mengarahkan kontolnya yang besar dan panjang itu ke muka Dr. Sinta. Dr. Sinta hanya mampu melihat tanpa berani melawan.

"Buka mulutmu dan sedotilah, tunggu apa lagi," perintah Reza dengan suara keras.
Dr. Sinta membuka mulut tanpa daya dan mulai mengecapi kepala licin bentuk helm jerman menerobos ke mulutnya. Dr. Sinta menghisap dan mengemut batang kontol yang besar hingga Reza mengerang-ngerang keenakan.

Lama-kelamaan Dr. Sinta telah keletihan dan hanya mampu menuruti saja perlakuan Yoga dan Reza kehadapnya. Akhirnya Dr. Sinta tidak mampu bertahan lagi dengan genjotan dari kontol Yoga dan dia pun telah basah berkeringat karena hampir klimaks. Mata Dr. Sinta kelihatan amat kuyu dan keletihan sementara buah dadanya menegang tajam karena merasakan orgasme yang amat hebat, maklumlah kali pertama baginya dientot oleh lelaki yang bersunat. Penis yang sebelumnya dianggapnya tidak menarik ternyata terasa sungguh hebat.

Akhirnya Dr. Sinta klimaks dan air juice cibainya eluar juga dengan banyaknya dan kelihatan meleleh pada liang memeknya. Kali pertama Dr. Sinta mendapat orgasme dari persetubuhannya dengan penis berkhitan. Sebelumnya teman lelakinya yang masih berkulup yang melayaninya bersetubuh. Mengerang hebat si amoy cantik saat dia mengalami klimaks. Menggigil badannya merasakan kenikmatan yang amat sangat.

Yoga juga turut orgasme menyusul sang dokter saat melihat amoy muda yang cantik yang digenjotnya itu klimaks dan dia meraung kuat dalam orgasme sambil menembak-nembakkan air kejantannya ke dalam liang memek Dr. Sinta. Perempuan cina itu dapat merasakan cairan panas menerpa kencang ke rongga rahimnya. Pangkal rahimnya terkemut-kemut menyedot benih pria pribumi yang amat banyak. Mungkin dua buah zakar punya Yoga ngecrot disana mengosongkan seluruh amunisinya.

Reza juga tak tertahan lagi saat mulut mungil yang hangat itu membelai batang penisnya. Reza yang belum pernah merasakan kengahatan dari perempuan tak dapat bertahan lama dan menembakkan air maninya ke dalam mulut Dr. Sinta. Dr. Sinta dengan lemah menelan semua mani dari kontol Reza. Terasa anyir tapi ditelan juga.

"Sekarang kau nikmati kontol yang kau hina. Kau bilang tak ingin kontol yang sunat. bagaimana rasanya?"

"Enaak.." Dr. Sinta menjawab dengan perasaan malu.

Sekarang Dr. Sinta mengakui batang penis pria lokal milik dua orang ini lebih nikmat dari batang teman lelakinya. Dia telah salah sangka. Dan dia merasa bersalah karena menghina penis lelaki ini. Tapi bila dipikirkan ada pula hikmahnya. Dia dapat menikmati batang penis yang dipotong kulit penutupnya. Rasanya juga nikmat. Dr. Sinta mulai berpikir untuk menyuruh teman lelakinya dikhitan juga.

Reza dan Yoga mengenakan pakaian dan meninggalkan dokter cina tersebut terbaring kecapekan di lantai.

"Tak sempat aku merasakan memeknya amoy. Hisapannya pasti dahsyat, aku sudah tak tahan." Reza mengeluh perlahan.

"Kau jangan sedih. Minggu depan kita garap lagi dokter cina tu."

Yoga dan Reza tertawa berderai dalam mobil. Yoga dan Reza membuat rencana mereka selanjutnya. Apalagi Reza bersikukuh ingin menikmati cibai milik amoy yang cantik itu. Kali ini mereka akan mengajak seorang teman dekat mereka yang juga ingin merasai memek amoy yang ketat itu. Maklum saja dua orang jejaka jones ini belum pernah merasai nikmatnya ngentot. Hanya nyabun dan coli saja yang mereka tahu, itupun sudah terasa nikmat yang tak terhingga.

"Telah datang lagi video esek-esek
Telah muncul lagi libido memburu....
Pada siapa lagi... Oh Inang kulampiaskan
Pada babi haram, pada orang tak ada hepeng....
Sabun... Masa sih Sabun melulu... Oh Inang....
Sabun... Masa sih Sabun melulu... Oh Inang....
Di tanah orang, sabun diisi ulang" -The Panasdalam-

============================== =====================


Karena Yoga memanasi mereka berapi-api bahwa hubungan seks itu teramat nikmat maka Reza dan Abdul sudah memasang angan-angan untuk ngentot dengan gadis cina yang bahenol itu. Sebelumnya pun Reza sudah merasa nikmatnya di saat penisnya dikulum oleh dokter muda itu. Setelah Yoga membujuknya bahwa lubang memek sepuluh kali lebih nikmat daripada mulut maka Reza sudah tak sabar-sabar ingin merasakan lubang cibai amoy tersebut.

Yoga, Reza dan Abdul berbincang di warung nasi Pak Suhendi sore itu. Kali ini mereka berencana untuk menikmati tubuh si amoy tersebut di rumahnya sendiri. Abdul ditugaskan mengintip dimana dokter amoy itu tinggal. Abdul dengan senang hati menerima tugas tersebut. Di otaknya telah terbayang batang kontolnya akan bermain-main dalam liang kawin sang amoi cantik.

Malam itu Abdul sudah menunggu di depan klinik Dr. Sinta. Sepuluh minit kemudian Dr. Sinta meninggalkan klinik dan menuju ke arah Honda Accord yang diparkir depan klinik. Saat mobil Dr. Sinta berjalan, Abdul juga mengikuti mobil mewah tersebut dengan motor bebeknya. Sepuluh minit kemudian Dr. Sinta menghentikan mobilnya pada sebuah restoran fastfood Amerika.

Sepuluh menit menunggu, Dr. Sinta keluar menjinjing sebuah bungkusan plastik. Ia lalu menuju mobilnya dan terus meluncur menyusuri jalan yang agak macet. Lima belas minit kemudian Dr. Sinta berbelok ke arah kompleks perumahan mewah. Di kompleks itu rumahnya besar dan elokk melambangkan status penghuninya yang kaya.

Abdul mengikuti dari jauh Honda Accord hitam metalik dokter muda itu. Menghampiri sebuah bangunan rumah tiba-tiba pintu terbuka. Abdul berpikir pasti Dr. Sinta memakai remote control membuka pintu pagarnya. Abdul memperlambat motornya dan menengokkan lehernya mengawasi rumah Dr. Sinta. Rumah itu kelihatan sunyi dan gelap. Tak ada mobil lain di sana. Abdul tersenyum sendiri. Dr. Sinta pastinya tinggal disana seorang diri.

“Ini berita baik,” kata Abdul saat Yoga dan Reza berkumpul di kedai kopi Pak Suhendi sore esoknya.

“Apa yang baiknya?” tanya Yoga sambil mengunyah sebuah pisang.

“Amoy itu tinggal di rumah seorang diri. Ini peluang baik.” Abdul menambahkan.

“Ini bagus buat proyek kita. Pastilah aku bisa nikmati memeknya amoy.” Reza mengangkat ibu jarinya ke atas. Dia masih penasaran karena tak sempat membenamkan batang kontolnya ke dalam cibai dokter cina itu.

Pada malam yang dijanjikan mereka bertiga telah menunggu didekat kompleks perumahan Dr, Sinta dalam sebuah Xenia kepunyaan Yoga. Sepuluh menit kemudian cahaya terang dari lampu mobil menghampiri mereka. Ketika mobil tersebut melintasi mereka mereka mengikutinya perlahan dengan lampu mobil dimatikan.

Saat pintu pagar terbuka dan Honda Accord melewatinya dengan sigap mereka ikut masuk ke halaman rumah. Dr. Sinta tidak ngeh ada mobil lain mengikutinya. Dengan santai dia keluar dan membuka pintu rumah. Begitu saja pintu terbuka, ketiga bujangan menyerbu masuk dan mendorong Dr. Sinta ke dalam. Dr. Sinta amat terkejut saat tubuhnya dipeluk erat oleh ketiga lelaki tersebut.

“Jangan menjerit. Ikuti perintah kami, kalau tidak pisau ini akan menembus perut kamu.”

Dr. Sinta merasakan benda tajam menikam punggungnya. Dia hanya diam kaku dan lidahnya kelu karena teramat takut.

“Masuk ke kamarmu.”

Dr. Sinta menurut. Dia melangkah lunglai menapak anak tangga satu demi satu. Kamar tidurnya ada di lantai dua. Ketiga lelaki tersebut masih memegangi kedua tangannya. Pintu kamar dibuka dan lampu dinyalakan. Ketiga lelaki tersebut tertegun melihat kamar tidur mewah dokter cina tersebut. Ranjangnya luas dengan hiasan ornamen cantik. Kamar tersebut berbau harum.

“Kamu akan selamat jika menuruti perintah kami. Jika kamu membantah nyawamu akan melayang.” Yoga mengarahkan pisau tajam ke muka si amoy.

Oleh karena ketakutan diancam hendak dibunuh, akhirnya Dr. Sinta tidak berani berteriak keras-keras dan hanya pasrah dengan nasibnya. Tanpa membuang waktu tiga sahabat itu langsung mendekati Dr. Sinta dan mendorongnya ke atas ranjang. Dr. Sinta terbaring lemah di atas bedcover empuk. Ketiga lelaki tersebut mulai mengerumuninya. Yoga langsung mencium muka Dr. Sinta, mula-mula hidung dan pipinya dijilat-jilatnya, seakan-akan sedang menikmati betapa licin dan mulusnya pipi Dr. Sinta tersebut, akhirnya bibir mungil amoy tersebut dilumatnya dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, dengan nafsu meraba-raba buah dada yang mulus padat itu, kemudian meremas-remasnya dengan sangat bernafsu.

“Kamu masih kenal saya? Pemuda yang kamu hina dulu. Kamu bilang kontol saya kecil.”

Dr. Sinta hanya mampu bersuara lemah, “Aahh… jangan, jangan. Saya minta ampun.”

Yoga, Reza dan Abdul hanya tertawa mendengar rengekan si amoy tersebut. Kali ini mereka ingin mengentoti amoy ini habis-habis. Mulut bawel si dokor muda itu mesti ditutup. Disumbat dengan batang kontol bersunat yang dihinanya dulu.

“Sekarang kau mengemis-ngemis menolak. Dulu saat kepala kontolku ini terluka kau hina. Kau bilang kontolku kecil. Kau bilang kau benci kontol yang disunat. Kau hanya suka kontol berkulup. Kami datang memang ingin membalas dendam.”

“Saya telah khilaf, maafkan saya.”

“Maaf diterima tapi sebelum itu kami mau nikmati lubang memek milikmu itu dulu.” Reza tersenyum lebar melihat dokter cina itu yang menggigil.

Abdul yang tidak terlibat minggu lalu amat terangsang menikmati tubuh si amoi yang langsing dan berkeringat. Memang benar kata-kata Yoga, dokter muda ini pantasnya menjadi model atau artis. Wajah dan badannya memang aduhai.

“Tenang saja, kami datang mau memberi kenikmatan kepadamu. Kata orang win win situation. Kami enak kamu enak,” Abdul mengomentari sambil tangannya menekan-nekan toket si amoy yang padat. Macam orang politik saja ucapannya. Mentang-mentang jadi tukang panjat pohon tempat memasang poster spanduk pada pemilihan umum yang lalu.

”Kamu rasain kontol-kontol kami yang telah disunat, bandingkan dengan kontol milik tunanganmu itu. Bulan depan kami datang lagi.” Yoga tak habisnya memojokkan dokter cina yang sempat membuatnya sakit hati.

Dr. Sinta terperanjat mendengar kata-kata Yoga. Siksaan hari ini belum selesai dia telah diberi jadwal kunjungan mereka untuk bulan depan juga. Dendam pemuda ini membuat pikirannya cemas dan takut. Sampai-sampai dirinyaa menderita disiksa karena mulutnya yang tajam dulu.

Abdul sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh mungil amoy muda. Gadis cina itu didekatinya. Nafsu dan gairahnya memang telah berkobar semenjak dari tadi. Tubuh dokter muda itu di elusnya. Badan Dr. Sinta menggeliat-geliat, tapi dia tidak dapat menghindar karena kedua teman Abdul masing-masing memegang kaki dan tangannya erat-erat sambil tertawa-tawa. Mereka tidak mau kalah dengan Abdul, Yoga yang memegang kedua kaki Dr. Sinta langsung menyingkap dan menarik rok span pendek Dr. Sinta, sehingga terlihat celana dalam merah muda dan kedua belah paha Dr. Sinta yang putih mulus.

Kemudian sambil menduduki kedua kaki Dr. Sinta, kedua tangan Yoga segera mengelus-elus kedua paha Dr. Sinta yang sudah separuh terbuka. Tangan Yoga mula-mula hanya bermain di kedua paha, naik turun, tapi akhirnya secara perlahan-lahan mulai mengelus-elus belahan di antara kedua pangkal paha Dr. Sinta yang masih ditutupi celana dalam itu. Tidak cukup sampai di situ, bahkan salah satu jari tengahnya dimasukan ke celana dalam Dr. Sinta dan dipaksakan masuk kedalam kemaluan Dr. Sinta yang masih sangat rapat itu.

Badan Dr. Sinta hanya mampu menggeliat-geliat saja dan punggungnya bergerak ke kiri ke kanan mencoba menghindari tangan-tangan yang meraba paha dan kemaluannya. Buah dadanya yang padat dan mengacung menjadi mangsa tangan-tangan kasar pemuda pribumi yang disindirnya dulu.

“Jangan apa-apakan saya. Tolong,” Dr. Sinta masih coba merayu meskipun dia tahu rayuannya hanya sia-sia.

“Jangan siksa saya, tolong!” Suara Dr. Sinta kedengaran lemah. Dari kedua matanya mengalir air mata putus asa, kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri ke kanan, menahan rasa geli yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Secara perlahan-lahan pada bagian celana dalamnya yang menutupi belahan cibainya mulai terlihat membasah.

Dr. Sinta tidak dapat menyembunyikan perasaan terangsangnya. Walaupun dipaksa tetapi bila segitiga terlarangnya diusik-usik gairahnya meledak juga. Cairan hangat mula mengalir keluar dari liang kenikmatannya. DIsaat bersamaan mulut, dada dan selangkangannya dikerjakan serentak, Dr. Sinta makin terangsang. Bibir basahnya yang merah itu dilumat oleh Abdul, teteknya yang mengkal kenyal diremasi tangan Reza dan lubang cibai merekahnya dibelai Yoga. Tindakan serentak di tiga daerah ini sungguh nikmat rasanya.

Yoga bertindak lagi. Baju yang dipakai Dr. Sinta dikoyaknya. Pada tubuh putih montok itu kini hanya tinggal bra dan panties (cangcut) pink. Separuh bugil Dr. Sinta telentang di tengah-tengah ranjangnya yang lebar. Yoga meraba-raba dan mengelus-elus buah dada Dr. Sinta yang masih tertutup beha. Cup bra merk Triumph itu dibuka dan tereksposelah sepasang gunung kembar itu. Terpesona tiga pasang mata menatap payudara Dr. Sinta yang sangat indah itu. Buah dada Dr. Sinta putih mulus, tidak terlalu besar, masih padat mengacung dengan ujung putingnya yang coklat muda telah mengeras karena terangsang.

“Diemutin enak nih toket,” kata Abdul.

Abdul dan Reza mengusap-usap payudara Dr. Sinta dengan perlahan-lahan. Abdul terpesona. Pertama kali secara langsung dia melihat buah dada indah, putih dan halus. Yoga tak mau ketinggalan. Buah dada yang mengkal itu diraba-raba dan diremasinya perlahan dan lembut. Terasa kenyal seperti bola karet saat ditekannya. Lelaki bertiga itu benar-benar menikmati gunung kembar indah saat pemiliknya Dr. Sinta hanya pasrah. Tiada lagi suara dari mulut mungilnya.

Abdul kelihatan tak sabar dengan mangsa yang terbaring itu. Celana dalam pink ditarik ke bagian kaki dokter muda itu. CD itu dipegang dan diremas. Kainnya sangat lembut. Bagian tengahnya kelihatan basah. Abdul menghirup bagian basah itu dan batang kontolnya semakin tegang. Aroma bekas memek Dr. Sinta membakar nafsunya.

Dr. Sinta terbaring telanjang. Tiada lagi pakaian yang menutup dirinya. Tiga pasang tangan membelai dan menggerayangi tubuh indah itu. Tiap lekuk tubuh mudanya di usapi dan dielus.
Bagian bawah tubuh Dr. Sinta yang membukit kecil di antara kedua pahanya yang putih mulus itu menjadi tatapan tiga pasang mata yang bercahaya penuh nafsu. Tundun cibai yang menonjol dengan celanan kecil berbentuk garis memanjang yang menggelembung pada kedua pinggirnya, tampak ditutupi oleh bulu kemaluan yang lebat yang berwarna hitam.

“Memeknya bagus. Aku suka jembut yang lebat,” Abdul kembali bersuara.

Yoga langsung meraba-raba dan mengelus-elus bulu kemaluan sambil membuka kedua paha Dr. Sinta mengangkang makin melebar. Terlihatlah belahan memeknya yang masih rapat. Tangan kasar itu segera menjamah liang yang sempit itu sambil digosok-gosoknya. Tonjolan daging kecil yang terletak di bagian atasnya dielus-elus dengan jari telunjuk. Abdul sudah tak sabar untuk menikmati jepitan memek milik Dr. Sinta yang kelihatan merah dan merekah basah. Bibir bagian dalam sungguh lembut dan berwarna merah menyala. Bagi Abdul dua lembar daging tipis itu sungguh indah.

“Aku pengen ngerasain jilmekin nih amoy", pinta Abdul.

“Kasian Si Abdul ini. Sudah tua begini belum pernah ngerasain memek. Biar dia ciumin tuh memek amoy,” kata Yoga kepada Reza.

Abdul membenamkan batang hidungnya ke dalam celah memek yang merekah merah. Ditarik dalam-dalam nafasnya menikmati aroma cibai si gadis cina. Puas mencium aromanya kini lidahnya juga menjilati biji kacang di bagian atas. Badan Dr. Sinta meliuk-lintuk ketika Abdul mengulum kelentitnya. Basah lidah dan hidung Abdul dengan lendir yang keluar dari rongga memek si amoy.

“Oohh.. begini rupanya bau memek,” Abdul bersuara sambil hidungnya masih di celah selangkangan si amoy.

“Kenapa, kau pikir baunya memek kayak minyak wangi,” Yoga menjawab pelan sambil tertawa.

“Ya... meskipun pesing tapi baunya bisa bikin kontolku keras.” Abdul masih bersuara.

“Itulah baunya memek. Bau tapi lelaki suka. Kamu gak tau kan amoy cina ngga cebokin memeknya abis kencing,” Reza menyela.

“Bukan cuman orang, domba bandot juga suka baunya memek. Kamu gak liat domba jantan suka cium bau memeknya yang betina.” Yoga berceloteh sambil tangannya tak tinggal diam menggerayangi badan si amoy.

“Enak juga maenin kelentit ini amoy, besar dan panjang.”

“Emang kelentit cina besar panjang. Mereka gak disunat. Mungkin itu sebabnya amoy ini suka kontol yang gak disunat.”

“Kau pikir amoy ini istrimu apa, mau berlama-lama. Cepatlah kau garap amoy ini. Aku sudah tak sabar mau rasain memek,” Abdul makin sange dengan cibai merah yang basah.

Yoga bangun membuka celana dan baju yang dipakainya. Tampaklah batang kemaluannya yang telah tegang, berwarna coklat kehitaman, besar dengan bagian kepalanya yang bulat mengkilat dan bagian batangnya yang dikelilingi oleh urat-urat menonjol. Batang ini telah dirasakan sebelumnya tapi Dr. Sinta masih ngeri dengan bentuknya. Setelah selesai melepaskan seluruh pakaiannya, dengan cepat Yoga kembali naik ke tempat tidur dan merangkak di atas badan Dr. Sinta. Yoga merangkak di antara kedua paha Dr. Sinta, yang dengan paksa dibuka melebar oleh Reza yang memegang kedua kaki Dr. Sinta.

”Tolong pakailah kondom, saya tak mau hamil,” rayu Dr. Sinta.

“Kami tak bawa kondom,” kata Yoga.

“Ada di dalam laci, ambillah,” Dr. Sinta menunjuk ke arah laci di hujung kepala tempat tidur. Dia selalu menyimpan bekal kondom di rumahnya. Tunangannya selalu menggunakan kondom setiap mereka bersenggama.

“Tak usah, nanti kami bucatnya diluar.”

“Kalian sudah berjanji, yaaa.”

“Kami janji. Kalau kami tak sempat cabut biar kamu kandung saja anak kami,” Yoga senyum sinis sambil memandang muka dokter cina itu.

“Banyak omong nih amoy. Yoga buruan..., kami udah gak sabar nih,” cela Abdul sambil memegangi batang kontol yang telah lama mengeras.

Dengan tangan kiri bertumpu pada kasur empuk di samping badan Dr. Sinta, tangan kanan Yoga memegang batang kontolnya dan dengan perlahan-lahan digosok-gosokkannya pada bibir kemaluan Dr. Sinta. Begitu kepala penis coklat tua menyentuh kelentit Dr. Sinta, terlihat badan Dr. Sinta menjadi kejang dan bergetar. Yoga terus melakukan kegiatannya menggosok-gosok kepala kontol pada bibir cibai Dr. Sinta, yang akhirnya menjadi licin dan basah oleh cairan yang keluar dari ujung penis Yoga dan juga dari dalam lubang vagina Dr. Sinta sendiri.

“Ohh.. kamu telah terangsang juga tampaknya,” kata Yoga saat sadari bibir kemaluan Dr. Sinta telah basah.

Kemudian dengan perlahan-lahan Yoga mulai menekan kepala penisnya membelah bibir kemaluan Dr. Sinta. Mendapat tekanan dari kepala penis Yoga, bibir kemaluan Dr. Sinta tertekan ke bawah dan mulai terbuka. Oleh karena kemaluan Dr. Sinta telah basah, akhirnya kepala penis Yoga mulai terbenam ke dalam lubang surga Dr. Sinta dengan mudahnya.

“Enak gak kontol yang udah sunat?” tanya Yoga sambil batang penisnya menusuk dalam lubang hangat.

Dr. Sinta tak berkata apa-apa. Matanya terpejam ketika dirasakannya ada batang bulat besar telah bersarang dalam lubang cibai miliknya. Yoga tak puas hati bila Dr. Sinta diam saja. Satu tamparan hinggap di muka gadis cina itu. Dr. Sinta mengaduh kesakitan.

“Aku tanya kontol yang sunat enak atau tidak,” sergah Yoga.

“Enak, enak... Penis yang sunat enak,” jawab Dr. Sinta tergagap-gagap. Kulit pipinya terasa pedih.

“Yang mana lebih nikmat, yang bersunat atau berkulup.”

“Yang bersunat lebih nikmat,” Dr. Sinta menjawab lemah khawatir jika Yoga akan menamparnya lagi.

Disebabkan penis Yoga agak besar, maka kelentit Dr. Sinta ikut tertarik masuk kedalam lubang kemaluannya dan terjepit oleh batang penis Yoga yang berurat menonjol itu. Keadaan ini menimbulkan perasaan geli dan sekaligus nikmat yang amat sangat pada diri Dr. Sinta. Badannya menggeliat-geliat, meliuk-liuk dan spontan dari mulutnya terdengar suara mengerang dengan keras.

“Oohh… aahh… oohh… aahh..”

Merasakan kenikmatan, Yoga mempercepat gerakan batang penisnya keluar masuk. Kedua paha si amoi terlihat mengejang dengan kuat. Tanpa lelah Yoga menekan habis hingga ke pangkal batang kerasnya itu. Terjeritlah Dr. Sinta saat kepala penis Yoga menyentuh pangkal rahimnya. Dua biji zakarnya berlabuh santai di atas cibai milik Dr. Sinta. Dua pasang paha beradu. Paha Yoga yang hitam menekan dengan kencang paha putih mulus Dr. Sinta yang mengangkang itu.

Memang ini bukan pertama kalinya Dr. Sinta disetubuhi, telah beberapa kali tunangannya menggarap ladang kenikmatan miliknya itu. Tetapi karena ukuran kontol Yoga jauh lebih besar dan panjang daripada milik tunangannya, maka terasa sempit saat Yoga menggerakkan batang kontolnya di dalam liang kelamin Dr. Sinta. Tanpa mengenal belas kasihan, Yoga mulai memaju-mundurkan pantatnya, sehingga kontolnya yang besar itu, keluar masuk berulang-ulang menggerus dinding rahim Dr. Sinta.

“Sempit banget lubang amoy ini. Nikmat,” Yoga bersuara.

Reza dan Abdul masih terus menggerayangi tetek dan bibir Dr. Sinta. Mereka tertawa mendengar omongan Yoga.

“Tak sabar aku cobain memeknya amoy,” Reza masih menunggu gilirannya. Batangnya mengeras di dalam celananya.

Semakin cepat Yoga menggerakkan penisnya keluar masuk semakin enak dan nikmat dirasakan oleh Dr. Sinta. Sambil tertawa-tawa Yoga menggenjoti Dr. Sinta habis-habisan. Dr. Sinta hanya mampu merintih dan menjerit-jerit penuh nikmat. Seperti kucing betina yang terangsang, pikir Abdul. Suara jeritannya makin lama makin lemah, diganti oleh suara mendengus-dengus. Badan Dr. Sinta tiba-tiba mengejang dengan hebat sehingga bagian pinggulnya terangkat ke atas. Tanpa bisa ditahan Dr. Sinta mengalami orgasme dengan hebat. Beberapa saat lamanya badannya tersentak-sentak dan akhirnya Dr. Sinta terkulai lemah dengan kedua kakinya terkangkang lebar. Benar-benar Dr. Sinta mengalami kenikmatan yang hebat walaupun hal ini di luar kehendaknya. Kenikmatan luar biasa yang belum pernah dirasakan disaat bersama tunangannya.

Melihat si amoy yang sudah lunglai, Yoga memegangi kedua pinggul Dr. Sinta dan menariknya ke atas, sehingga pantat montok Dr. Sinta terangkat dari kasur. Dengan posisi ini Yoga dengan leluasa membenamkan batang kontolnya dalam-dalam ke lubang kemaluan Dr. Sinta tanpa kesulitan. Sambil pantatnya dimaju-mundurkan, sesekali Yoga menekan bokong Dr. Sinta rapat-rapat ke tubuhnya dan memutar-mutar bokong Dr. Sinta, sehingga kemaluan Dr. Sinta terasa meremasi batang kontol Yoga yang terbenam seutuhnya di dalamnya.

Sementara Yoga menikmati lubang memek Dr. Sinta sambil meremasi kedua payudaranya, Abdul dan Reza ikut menggosok-gosok penis masing-masing pada tubuh Dr. Sinta. Kepala kontol yang bulat bentuk cendawan itu diarahkan pada ketiak dan pipi si amoi. Reza menikmati kepala kontolnya beradu dengan sisa-sisa rambut ketiak Dr. Sinta. Bagian ketiak yang kasar itu menimbulkan perasaan geli.

Abdul yang tak tahan melihat bibir merah dan basah mulai mendorongkan kepala kontolnya ke sepasang bibir Dr. Sinta. Abdul merasa kenikmatan kembali saat bibir lembut itu mengusap kepala kontolnya. Abdul sengaja tak ingin memasukkan kedalam mulut Dr. Sinta karena khawatir dia akan berejakulasi disana. Dia ingin menyemburkan benihnya ke dalam cibai milik Dr. Sinta. Kisah Reza sebelumnya yang berejakulasi dalam mulut Dr. Sinta tak akan diulanginya.

Tikaman demi tikaman persetubuhan keduanya masih berlangsung. Yoga berpeluh-peluh mengerjakan memek sempit amoi cina. Kali ini permainannya dirasakan lebih nikmat daripada peristiwa di klinik minggu lalu. Perasaan nikmat menjalar ke seluruh urat-urat sarafnya. Tak lama kemudian Yoga mengalami ejakulasi dan mengucurkan seluruh spermanya ke dalam vagina Dr. Sinta. Tubuh si amoi tersentak-sentak saat benih-benih pribumi yang panas menerpa rongga rahimnya. Badan Dr. Sinta dipeluknya erat sementara badannya menindih badan si amoi yang langsing itu. Semenit kemudian Yoga rebah terkulai keletihan di sebelah Dr. Sinta yang terlentang.

Melihat Yoga yang telah tumbang maka Reza mulai mengambil gilirannya. Ditariknya tubuh Dr. Sinta dan mulai membetulkan kepala torpedonya. Kaki Dr. Sinta dikangkang kan lebar hingga bibir-bibir cibai Dr. Sinta ternganga. Ditekankannya kepala kontolnya pada liang yang telah membanjir. Geli rasanya bila kulit kepala penis yang tipis itu menggesek rekahan memek yang merekah. Reza tak mampu lagi berlama-lama. Dibetulkan kepala penisnya ke celahan memek dan ditekan kuat. Mudah saja batang kelelakiannya menyelam hingga ke pangkal. Dan dimulailah acara dorong tarik. Lima menit kemudian memancarlah cairan pekat warna putih menerpa pangkal rahim Dr. Sinta. Terangkat-angkat pantat sang dokter amoy menyambut semburan cairan mani yang hangat.

Melihat Reza telah berejakulasi maka Abdul kini mengambil giliran. Dia merapatkan diri ke badan Dr. Sinta dalam posisi melutut di celah selangkangan Dr. Sinta. Didorongnya kepala kontol yang sudah keras sejak lama ke arah labia memek lembut yang merekah. Sekali tekan seluruh kontolnya terbenam dalam lubang memek. Mudah saja batang kontolnya meluncur masuk karena lubang cibai Dr. Sinta telah dipenuhi dengan mani Reza dan Yoga.

Mungkin karena baru pertama kali melakukan hubungan kelamin maka Abdul tak dapat bertahan lama. Sensasi geli yang teramat sangat pada kepala kontolnya membuat maninya tak sabar ingin keluar. Dicoba sekuat tenaga bertahan tetapi tak sampai lima menit aktivitas menggenjoti berlangsung maka menyemprot juga air cintanya. Menggigil badan Abdul bagai orang terserang demam. Beberapa saat kemudian tergeletaklah Abdul di sebelah Dr. Sinta.

Dr. Sinta merasakan dirinya tak berdaya. Tenaganya terkuras habis. Berkali-kali dia mengalami orgasme. Lutut dan seluruh anggotanya lemah tak berdaya. Matanya terpejam rapat. Badannya terkulai, terkapar lesu di atas kasur.

“Kayak ayam saja kau Abdul. Baru sekejap saja udah beres.”

“Geli lah, aku tak tahan.”

“Kalau terus begini isteri kau nanti lari ikut lelaki lain. Atau mungkin ikut sama germo.”

“Baiklah, mari kita pulang. Lain kali kita ulang lagi.”

“Nah Abdul kau ambil beha amoi ini. Aku mau simpan sempaknya untuk kenangan.” Reza meremas celana dalam warna merah muda itu. Dicium dan dihirupnya dalam-dalam aroma yang tersisa di celana dalam perempuan cina itu.

“Buat apa lagi benda itu?,” tanya Yoga.

“Buat modal ngocok bray,” jawab Reza dan Abdul serentak.

Lelaki bertiga itu tertawa puas.

-End

itil foundation