Teh Mila Mojang Priangan

itil service

Hari itu di Perkampungan padat penduduk di daerah Tanah Abang tempatku tinggal dan mengotrak disana, seperti layaknya ditempat yang penduduknya sangat padat aku pun menjadi terbiasa dengan kebisingan suara motor yang melintas didepan rumah kontrakkanku, dan ditambah lagi suara anak anak kecil yang berlarian menambah kegaduhan suasana dilingkungan itu.

Aku pun sudah mulai terbiasa dengan kehidupan sehari hari warga dilingkungan yang mayoritas warganya, dari kalangan menengah kebawah. mulai dari yang pegawai negeri sampai tukang panggul dipasar, dan aku sendiri yang berprofesi sebagai satpam pada sebuah perusahaan perbankan. Dengan tempat kerjaku yang didaerah Sudirman sangtlah dekat dari tempatku mengontrak, dan setiap harinya aku pulang pergi hanya dengan berjalan kaki.

Di hari minggu itu rumah sebelah kontrakkanku mulai diisi oleh satu keluarga, yang baru akan menempati rumah yang baru mereka beli. Melihat hal itu aku sebagai tetangga yang baik kemudian menghampiri tetangga baruku itu dengan memperkenalkan diri kepada mereka, yang terdiri dari sepasang suami istri dan kedua anaknya yang masih kecil kecil.

Suaminya yang bernama Tejo yang asli Tegal, dan istrinya Mila yang asli Bandung, Kang Tejo berprofesi sebagai pedagang pakaian dan memiliki sebuah kios di pasar Jatinegara, sedangkan Teh Mila istrinya hanya seorang ibu rumah tangga yang sehari hari hanya mengurusi kedua anaknya dirumah.
Dan akupun menawarkan bantuan untuk membantu mereka mengangkuti perabotan rumah mereka yang masih banyak di atas truk yang diparkir diujung gang, mereka sangat senang dan berterimakasih sekali dengan tewaranku tersebut. Kemudian kamipun bergotong royong mulai mengangkuti dan membenahi perabotan kedalam rumah baru mereka.

Aku yang sudah lama memiliki bakat mata keranjang, diam diam mulai memperhatikan Teh Mila istri tetangga baruku itu, perempuan asli Bandung yang sangat cantik dengan bentuk tubuhnya yang seksi, serta kulitnya yang putih dan mulus itu semakin membuat hayalan dan fantasi sexku terhadap Teh Mila semakin menggelayut diotakku. Dengan buah dada Teh Mila yang montok menggantung didadanya serta bentuk pantatnya yang begitu padat membulat, semakin membuatku berpikiran kotor (piktor).

Sampai sore itu aku masih membantu Kang Tejo menata perabotan rumah hingga selesai, dan mungkin sudah kecapean Teh Mila bersama kedua anaknya sudah tertidur dikamar sore itu. Aku yang terkadang harus bolak balik mengambil tumpukkan barang pecah belah dan yang lainnya dikamar, sempat melihat paha mulus Teh Mila yang tertidur dengan tersingkap bajunya hingga ke pinggangnya.
Kang Tejo yang sedang menata perabotan pecah belah kedalam buffet, tidak tau kalau aku yang bolak balik kekamar mengambil dan mengangkuti tumpukkan barang dikamar, sesekali memperhatikan paha mulus istrinya yang tertidur dikamar dengan pakaiannya yang tersingkap sampai pinggangnya. “…clegug…clegug…” aku sesekali menelan ludah.

Malamnya setelah semua perabotan dan barang barang sudah tertata rapi, tetangga baruku itu mengundangku untuk makan malam bersama, dan dilanjutkan dengan obrolan kami diruang tamu hingga malam hari. Karena kecapean Kang Tejo pun pamit kepadaku untuk istirahat dikamar, dan akupun yang merasa tidak enak hati akhirnya meminta diri untuk kembali kekontrakkanku. Tapi tidak kusangka dicegah oleh istrinya karena masih ingin ngobrol denganku, dan karena ia bilang belum mengantuk.

Akupun mengobrol dengan Teh Mila istri tetangga baruku itu, dan ditengah obrolan aku mulai dengan seksama memperhatikan kecantikkan dan keseksiannya, dan terus menelanjangi seluruh tubuh seksi montok Teh Mila dengan mataku. Malam itu Teh Mila memakai daster tipis yang dipadu dengan belitan kain batik dipinggangnya, dan karena begitu tipis dan transparannya daster yang dipakainya, hingga menampakkan BH hitamnya yang membayang jelas di dasternya dan semakin membuatku terangsang.

Semakin lama dudukku disofa itu semakin tidak nyaman, dengan batang kontolku yang sudah sangat ngaceng dan keras. Kemudian dari obrolan kami itu aku akhirnya tahu bahwa Teh Mila adalah type wanita yang sangat butuh perhatian dan kasih sayang, dan rupanya Teh Mila kurang mendapatkan hal itu dari Kang Tejo suaminya, dan hal ini sedikit membuka jalan bagiku untuk mulai melakukan pendekatan dan mulai memberikan perhatianku terhadap Teh Mila.

Malam itu aku dengan setia menemani Teh Mila mengobrol sampai tengah malam, kemudian dengan usulku kepada Teh Mila, untuk menutup tirai gordyn dan pintunya, karena tidak enak bila terlihat orang aku masih dirumah tetangga baruku itu hingga larut malam. Setelah itu kamipun kembali melanjutkan obrolan kami, sampai saat Teh Mila mengeluhkan rasa cape ditubuhnya sehabis pindahan tadi siang.

Akupun dengan segera memanfaatkan keadaan itu dengan mencoba menawarkan pijatan kepada Teh Mila, dan ternyata disambut dengan senang olehnya. Kemudian aku berpindah duduk disebelah Teh Mila disofa panjang itu, lalu dengan meminta Teh Mila untuk membelakangiku akupun mulai memijat bagian pundak Teh Mila dengan perlahan.

“...ternyata Mang Jali pintar mijat ya...?” kata Teh Mila ditengah pijatanku.

“...ah sekedar pijat pijat aja sih saya mah bisa Teh...!” jawabku.

Aku yang sudah sedari tadi begitu terangsang terhadap tubuh seksi Teh Mila, sengaja kudekatkan wajahku leher jenjangnya dan berharap bisa menggelitik rangsangan ditubuh Teh Mila melalui hembusan nafasku, yang menerpa dikulit lehernya. Rupanya usahaku membuahkan hasil dengan mulai mata Teh Mila yang terpejam meresapi dan menikmati pijatanku dipundaknya yang terus turun hingga kepangkal lengannya, dengan hembusan nafasku yang terus menerus menggelitiki kulit mulus lehernya, yang mengkibatkan tubuh Teh Mila yang mulai mulai terangsang itupun makin merapat dan bersandar dibadanku.

Aku semakin didera hawa nafsu yang kian menyerang sel sel sensitif di tubuhku, lalu kuberanikan untuk menurunkan pijatanku kearah pinggang Teh Mila, dan terus turun lagi kebuah pinggulnya. Aku pun semakin mendekatkan wajahku kesamping wajah Teh Mila, dan dari sana dapat kulihat jelas belahan buah dada Teh Mila, yang mengintip dicelah baju dasternya yang berleher rendah, dan akupun mulai sering menelan ludah karena begitu nafsunya.

“clegug...clegug...gleg...”

Dan tanpa kusadari pijatanku mulai berubah menjadi rabaan dan usapan ditubuh Teh Mila, yang terus merambat keperut Teh Mila, terus naik lagi hingga beberapakali tanganku mulai menyenggol daging kenyal didada Teh Mila. Hingga mulai terdengar desah pelan dari mulut Teh Mila, “...ssshhh...”

Dengan mendengar desahan Teh Mila aku mulai sedikit sedikit menyentuh kulit leher Teh Mila dengan kumisku yang rada jarang, dan hal ini semakin membuat terangsang Teh Mila, lalu mulai iapun merapatkan leher jenjangnya kewajahku. Akupun mulai memberanikan diri untuk mengecup pelan kulit leher Teh Mila, dan kemudian kukeluarkan lidahku dan mulai kusapu secara pelan seluruh permukaan kulit lehernya yang sangat putih dan mulus itu.

Teh Mila hanya membiarkan perlakuanku yang mulai dengan penuh nafsu kini kujilati dengan sedikit kasar, mungkin pikirnya sekedar memberiku bonus, yang telah seharian membantu acara pindahan keluarganya dirumah itu.

Aku tiba tiba dikagetkan dengan cubitannya dilenganku yang mulai menyentuh dan sedikit meremas buah dadanya, “...ih nakal...!” katanya sambil tersenyum dan menjauh menyudahi pijatanku. Aku yang lagi tanggung akhirnya permisi untuk pulang kekontrakkanku, sambil memohon maaf atas kelakuanku tadi.

“...maafkan saya sudah kurang ajar sama Teteh, sekali lagi maaf ya Teh...jangan bilang bulang sama Kang Tejo…ya…Teh…?” dan dijawab anggukkan dan senyumannya yang begitu manis.

“...iya sudah ngga apa apa...sudah sana istirahat, besok bisa kesiangan kamu...!” katanya kemudian.

Kian hari aku semakin akrab dengan tetangga baruku itu, begitupun dengan anak anaknya yang masih kecil, yang mulai dekat dan selalu memanggilku Mamang Jali. Sesekali sehabis pulang kerja, sering juga aku sengaja memberikan mereka jajanan berupa coklat dan jajanan lainnya, Kang Tejo dan Teh Mila pun sangat senang melihat keakrabanku dengan anak anak mereka.

Tidak heran bila kemudian sedikit banyak aku mulai tahu dengan keseharian keluarga itu, terutama sekali dengan Teh Mila si ibu rumah tangganya itu, yang dengan kesehariannya selalu memakai kain batik , yang menjadi bawahan dari setiap pakaian yang dipakainya. Dan hal ini merupakan salah satu kesukaanku, yang lebih suka dan tertarik dengan perempuan yang berkain batik ditubuhnya, pernah aku begitu terangsang ketika pada suatu hari yang lalu, Teh Mila yang hendak pergi kondangan, memakai baju kebaya dengan kain batiknya yang sangat ketat membelit pantat hingga kemata kakinya.

Disaat saat aku libur karena pergantian sift ditempatku bekerja, akupun sering main kerumah tetanggaku itu pada siang hari, dan kebiasaanku yang sering masuk kerumah tetanggaku itu melalui pintu samping, yang mengakses langsung kedapurnya.

Seperti siang itu aku masuk kerumah tetanggaku itu melalui pintu samping, dan langsung mendapati Teh Mila yang sedang sibuk memasak didapurnya, dengan hanya memakai BH dan dan kain batiknya tanpa memakai baju. Memang siang itu terasa panas dan terik sekali, sehingga membuat Teh Mila yang sedang memasak dan menghadap kekompor semakin merasakan kepanasan, sampai ia pun terpaksa melepas bajunya.

Aku yang baru masuk langsung menyaksikan keadaan Teh Mila yang sedemikian rupa langsung membuat batang kontolku ngaceng, Teh Mila yang melihatku datang langsung tersenyum, dan tetap cuek dengan keadaannya yang hanya memakai BH dan tidak memakai baju.

“...eh Mang Jali...lagi libur nih...?” tanya Teh Mila.

“...iya nih Teh lagi kebagian jaga malem...!” jawabku sambil memperhatikan kulit mulus punggungnya.

“...Tia dan Tio ngga keliatan pada kemana Teh...? tanyaku kemudian.

“...lagi nginep dirumah neneknya di Cakung Mang...!” jawab Teh Mila.

“...cuacanya panas benget ya Mang...?” katanya kemudian.

“...i..i..iya Teh...!” jawabku lagi sambil mendekati Teh Mila.

“...nanti mau minta Kang Tejo untuk pasang AC ah...!” kata Teh Mila lagi.

“...yah nanti ngga bisa liat Teh Mila kepanasan kaya gini lagi dong...!” jawabku sambil menggodanya.

“...idiiih...Mang Jali udah keliatan lagi tuh genitnya...!” katanya sambil tertawa.

“...abisnya Teh Mila bikin saya gemes...!” lanjutku juga sambil tertawa.

Aku mengambil kursi plastik dan duduk didekat Teh Mila yang masih sibuk dengan masakkannya, yang sesekali menunduk untuk mengambil sesuatu yang mengakibatkan buah dadanya, yang hanya tertutup BH putih itu terlihat jelas olehku menggelayut dan bergoyang goyang.

Aku semakin larut dengan pemandangan menggiurkan didepanku, Teh Mila sama sekali tidak merasa risih, yang hanya memakai BH dan tidak berbaju, ditambah dengan hanya memakai kain batik yang mengikat dipinggangnya yang ramping, aku yang melihatnya jadi tambah nafsu.

Dalam hatiku ingin rasanya menerkam dan menarik Teh Mila keatas ranjang dan menggaulinya, untuk melepaskan hajat ngesekku terhadap kemolekkan tubuhnya, apalagi dengan keringatnya yang semakin membuat kulitnya yang putih dan mulus itu semakin berkilat.

Ingin rasanya kujilati keringat itu dan kujadikan suplemen tambahan buatku, “...Teh Mila...Teh Mila...tubuhmu begitu menggairahkan...!” bisik hatiku.

Aku yang sudah tidak tahan dengan keadaan Teh Mila yang demikian, mulai ribut dan berperang melawan bisikkan setan didalam hatiku, lalu dengan kenekatanku aku hampiri Teh Mila, dengan tanganku kemudian memeluk pinggangnya dan dengan penuh nafsu kucucup, dan kujilati leher jejang Teh Mila, dan Teh Mila gelagapan dengan seranganku yang tiba tiba itu.

“...aahhh...jangan Mang...jangaaaan...!” jeritan Teh Mila.

Lalu dengan tangan kananku kubekap mulut Teh Mila, dan segera kubisikkan ditelinganya.

“...jangan berteriak Teh...Teteh ngga malu kalo tetangga pada datang nanti...?!” bisikku seraya melepaskan bekapanku.

“...iya tapi jangan begini dong Mang...saya ngga mau...!” katanya pelan.

“...maafin saya Teh...saya udah ngga tahan...!” jawabku, sambil terus menjilati leher mulus Teh Mila yang berkeringat.

Teh Mila terus melakukan penolakkannya, dengan tangannya yang mulai menjambaki rambutku, dan kukunya pun beberapakali mencakar mukaku, dengan sambil, berkata kata untuk menyadarkanku.

“...Mang Jali... eling Mang...saya istri orang Mang...aaahh...ssshh...!” jawab Teh Mila diselingi desahannya ketika tanganku mulai meremasi buah dadanya.

Kemudian dengan cepat kumatikan kompor yang masih menyala itu, lalu dengan sekuat tenaga keangkat dan kubopong tubuh Teh Mila, dan mambawanya kedalam kamar tidurnya. Kerebahkan tubuh Teh Mila diatas ranjang dan segera akupun melompat keatas ranjang dan menerkam tubuh seksi Teh Mila, kemudian kugumuli dengan penuh nafsu.

Kamipun bergulingan diatas ranjang, aku yang sudah sangat bernafsu terus berusaha untuk menundukkan Teh Mila, yang terus melakukan perlawanan. Perlawanan Teh Mila mulai melemah, dan tidak kusia siakan dengan mengunci tubuhnya dibawah badanku. Dengan memegang kedua tangan Teh Mila dengan tangan kiriku, dan kupegang erat diatas kepalanya, lalu dengan tangan kananku mulai meremas remas buah dada montoknya dan mulutku melumat bibir tipis Teh Mila dengan lumatan kasar.

“...mmmffffsshh...eeehhhgggmm...!” suara Teh Mila dalam lumatan mulutku.

Lalu dengan tanganku kutari BH putih didada Teh Mila hingga putus, lalu dengan rakus kusedot puting susunya dan kujilati permukaan kulit buah dadanya, terus kuperlakukan tubuh Teh Mila dengan rabaan rabaan tanganku disekujur tubuh seksinya.

“...Mang...Jali...jangan...Mang...aaahh...ooohhh.. .pamali Mang...eling...Mang...!” kata kata Teh Mila dengan tidak berani kencang seperti jeritan pertamanya tadi.

Aku yang sudah kesetanan tidak memperdulikan kata katanya, dan terus kujilati seluruh permukaan kulit di bagian dada dan perutnya. Lalu dengan kasar kusingkap kainnya dan segera kutarik hingga sobek dan putus celana dalam Teh Mila. “...beerreebbeett...” lalu dengan tergesa kubuka kedua paha Teh Mila dengan tangan kananku, lalu kutahan dengan dengkulku. Teh Mila semakin lemah perlawanannya karena habis tenaganya dan akhirnya menyerah pasrah dan mulai menangis, akupun melepaskan pegangan tangan kiriku dikedua pergelangan tangan Teh Mila.

Lalu dengan cepat kutuntun batang kontolku kearah liang vagina Teh Mila, dan dengan satu dorongan kuat kutubleskan kedalam vaginanya, dibarengi jeritan kecil Teh Mila. “...aaarrgghh...!”

“...kena kamu Teh...!” kataku, mengiringi masuknya kontolku di vagina Teh Mila.

Dengan batang kontolku yang lumayan besar akupun mulai menggenjot liang vagina Teh Mila dengan kasar dan dengan tempo yang acak kadut. Dengan kedua tanganku yang memegang pinggulnya, lalu sedikit kuangkat tubuh Teh Mila dan kurangsek buah dada montoknya dengan kenyotan mulutku.
Kemudian kubalik tubuh Teh Mila dan ku hajar liang vaginanya dari belakang, dan kuhentak hentak dengan kasar liang vaginanya.

“...aaahhh...sakit...Maaaanng...aaahhh...!” rintihan Teh Mila disela tangisannya.

Lalu dengan mulutku mulai menjilati tengkuk dan leher Teh Mila dari belakang, dan terus lidahku turun kepunggungnya dan kujilati, sambil terus ku genjot liang vagina Teh Mila yang terasa legit dan menjepit batang kontolku. Lalu kubalikkan lagi tubuh Teh Mila dan dengan kasar kusodokkan kontolku kevaginya yang sudah basah, kupercepat kocokkan kontolku dan ku semprotkan lahar spermaku didalam rahim Teh Mila.

“...aaahhh...ssshhh... Teh Milaaaa...ooohhh...crot...crot...crot...!”

Tubuhku ambruk menimpa tubuh Teh Mila, dan dengan masih ngo ngosan lalu kubisikkan, “...maafkan saya Teh, sejak Teh Mila pindah kerumah ini saya sudah sangat menginginkan tubuh Teteh...!”

Teh Mila hanya menangis dan semakin sesenggukkan, “...ah mungkin kalo saja aku sedikit sabar, Teh Milapun akhirnya bisa kudapatkan...tidak seperti ini, memperkosa dan mengakibatkan luka dihatinya...” bisik hatiku.

Aku keluar dari kamar dan kemudian merokok didapur, sementara Teh Mila masih menangis dikamarnya. Kemudian akupun beranjak pulang kembali kekontrakkanku, ada sedikit penyesalan dalam hatiku, tapi sudahlah semua sudah terjadi, pikirku.

Sejak kejadian di tengah hari bolong itu, aku sudah jarang main kerumah tetanggaku itu, hingga suatu hari aku yang malam itu kebagian meronda di wilayah RT ku, dengan berkumpul bersama sama dengan lima orang tetanggaku yang juga kebagian meronda dan satu grup denganku. Kamipun mulai berkeliling kampung hingga sampai di belakang rumah Teh Mila, dan semua langsung berbisik bisik membicarakan kecantikkan dan keseksian Teh Mila warga baru dilingkungan kami.

“...eh...kamu tau ngga tetangga kita yang baru pindah ini, semok banget tau...!” kata kang Sudir kepada kami.

Lalu dijawab oleh Pak Karta, “...iya...iya...tau...saya suka banget ngeliat pantatnya yang demplon bin bohay itu...!”

Ditimpali cekikikan oleh teman teman yang lain, aku yang sudah merasakan kehangatan tubuh seksi dan liang meki Teh Mila, hanya tersenyum mendengar celoteh mereka.
Lalu kata Mas Supri, “...eh tau ngga...tadi siang kuliat suami dan kedua anaknya berangkat pulang kampung...waktu saya tanya katanya mau nganter anak anaknya liburan di rumah mbahnya di tegal...!”
Lalu dijawab lagi oleh Pak Karta, “...aduh...saya mau tuh ngelonin...kacian Teh Mila bobo cendilian...!”
Disambut tertawa oleh semuanya sambil menutup mulutnya masing masing, takut terdengar kedalam rumah Teh Mila.

Memang bila diperhatikan satu persatu teman teman merondaku ini ketiganya duda, hanya aku dan mas supri yang masih bujangan lapuk. Kami lalu beranjak dari belakang rumah Teh Mila, dan ketika melewati bagian samping rumahnya yang sedikit gelap, Pak Dudung yang duda gatel itu tiba tiba mendekati jendela kamar yang terlihat masih menyala lampu kamarnya.

Dengan sebelumnya Pak Dudung yang diam diam mengangkat sebuah kursi kayu panjang, yang tadi ada belakang rumah Teh Mila, dan kemudian dipakai sebagai pijakkan kakinya, mengintip kedalam kamar melalu lubang ventilasi di atas jendela kamar itu. Semua teman teman yang lain serentak ikut naik kekursi panjang itu, dan berjejer mengintip kedalam kamar Teh Mila.

Akupun tidak mau kalah dengan ikut berebut untuk mengintip kedalam kamar, dan kami semua begitu terkesima dengan pemandangan didalam kamar, Teh Mila yang sedang tidur sendirian diranjang, dengan hanya memakai kemben kain batik, yang tersingkap dibagian pahanya. Aku dan dan semua temanku yang sedang mengintip sesekali menelan air ludah, demi menyaksikan kemulusan paha wanita primadona di gang kami itu.

Terlihat pak karta yang berdiri disebelahku mulai terlihat gemetaran, begitupun dengan kang sudir yang mulai mengelusi batang kontolnya, dari luar kain sarungnya. Aku dan semua temanku yang sedang asik mengintip, satu persatu mulai turun dari kursi panjang itu, dan kemudian dengan sambil berbisik satu persatu mereka mulai dengan komentarnya masing masing hasil mengintip barusan.

“…mantep banget coy…!” kata kang sudir.

“…gile cing semok banget tubuhnya Teh Mila…!” komentar pak karta kemudian.

“…enaknya kalo bisa ngekepin seksinya tubuh Teh Mila…ooohh…!” mas supri dengan logat jawanya.

“…biar ngga penasaran, kita perkosa aja yok…?!” kata pak dudung.

Kami semua terdiam dan mata kami semua tertuju kepada pak dudung, yang dengan komentarnya barusan. Memang diantara teman temanku meronda, cuma pak dudung yang orangnya rada berangasan dan sangar. Akupun maklum dengan pak dudung yang dulunya, bekas jawara kampung Setu itu yang lumayan masih disegani sampai sekarang.

Kami semua kemudian saling pandang setelah mendengar komentar dari Pak Dudung tadi, lalu satu persatu mulai dengan pendapatnya.

“…kalo saya sih mau aja…udah lama ngga ngasah keris nih…!” kata pak karta, sambil melirik yang lain.

“…yang lain gimana pada mau ngga…?” kata pak dudung, dengan mengangkat alisnya.

“…Teh Mila pastinya ngenalin kita, trus gimana kalo dia lapor polisi…?!” sahut kang sudir was was.

“…gimana tuh pak…apa sudah siap sama resikonya…?!” kataku memperingatkan.

Lalu semua kembali saling pandang, mempertimbangkan kata kataku barusan, dan kemudian mas supri yang sedari hanya diam, kemudian dengan katanya memecah kebuntuan kami.

“…gimana kalo kita bius aja Teh Mila nya, kan kita bisa dengan bebas menikmati kehangatan tubuhnya, kalo semuanya mau nanti saya ambil dulu dirumah…!?”

Kami semua semua kemudian tersenyum dengan idenya barusan, memang mas supri yang berprofesi sebagai seorang apoteker, di Rumah Sakit tentu tidaklah sulit untuk mendapatkan obat bius. Lalu kamipun berjongkok dikegelapan disamping rumah Teh Mila, dan berembuk untuk membicarakan teknis dari rencana kami berlima, untuk memperkosa Teh Mila dengan cara membiusnya terlebih dulu.

Setelah mencapai kesepakatan kamipun mulai dengan menunggu mas supri, yang kemudian bergegas pulang kerumahnya untuk mengambil obat bius yang tadi dia tawarkan. Aku pun mengusulkan untuk masuk melalui pintu samping rumah Teh Mila, yang menurutku sangat aman bila masuk melalui pintu tersebut.

Aku dan pak dudung yang kebagian tugas mencongkel pintu samping rumah Teh Mila, segera pulang sebentar kerumahku yang memang berada di sebelah rumah Teh Mila, untuk mengambil obeng dan perkakas lain yang akan kami gunakan untuk mencongkel pintu. Dengan teman temanku yang sedang berjongkok dikegelapan, aku bersama pak dudung mulai pelan pelan mencongkel pintu samping rumah Teh Mila.

Ternyata dengan mudahnya pak dudung dapat membuka pintu itu, tanpa merusak pintunya sedikitpun, kemudian secara pelan pelan aku bersama pak dudung masuk kedalam rumah Teh Mila dengan diikuti yang lain, dan segera kembali menutup pintu tadi setelah semuanya masuk.

Aku yang dibekali sapu tangan yang sudah dibasahi cairan obat bius oleh mas agus, masuk kekamar Teh Mila yang tidak terkunci pintunya, lalu perlahan akupun menghampiri tubuh Teh Mila yang pulas tertidur. Lalu dengan sebelumnya aku mematikan lampu kamar tersebut, dengan sigap kubekap mulut dan hidung Teh Mila, tubuh Teh Mila berontak sebentar lalu kemudian terkulai dan tertidur lagi akibat pengaruh obat bius yang baru saja kubekapkan kemulut dan hidungnya.

Melihat hal itu serentak kelima teman temanku bergegas menghampiri tubuh Teh Mila yang tergolek tidak sadarkan diri diatas ranjang, dan dengan berebut mulai menjamahi tubuh seksinya, pak dudung lalu berkata.

“…sssttt…satu satu, jangan pada berebut begitu…!” seraya menghalau dengan tangannya.

Lalu kamipun sepakat untuk mengundi siapa yang akan lebih dulu menikmati tubuh Teh Mila, seperti layaknya anak anak kecil kami pun berhompimpah, dan tidak kusangka aku yang menang dan berhak untuk mendapat giliran pertama menikmati tubuh Teh Mila.

Lalu dengan disaksikan kelima temanku, aku mulai naik keranjang dan merangkak diatas tubuh seksi Teh Mila, dan mulai kulumati bibirnya yang tipis, terus turun lagi keleher jenjangnya, kemudian menurunkan kain kemben didada Teh Mila dan kemudian dengan rakus kujilat serta kukenyot puting susunya. Ketika aku masih sibuk dengan buah dada montok Teh Mila, teman teman yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan giliran mulai mengingatkanku untuk tidak berlama lama.

“…cepetan jal…jangan kelamaan…udah ga tahan nih…!” kata pak dudung, dengan di sambut keriuhan teman temanku yang lain.

Akupun segera menyingkap kain kemben Teh Mila, dan segera kuarahkan batang kontolku ke vaginanya, lalu mulai kugenjot dengan perlahan lalu semakin cepat, hingga tubuh Teh Mila ikut terguncang guncang. Terus genjotanku diliang vagina Teh Mila hingga spermaku muncrat didalam rahimnya.

“…aaahhh…crot…crot…crot…!” akupun segera turun dari ranjang.

Kemudian giliran pak karta yang mendapat giliran keduapun naik keranjang, dan tanpa basabasi langsung menancapkan batang kontolnya diliang vagina Teh Mila, dan mulai menggenjotnya dengan perlahan dan makin cepat, dengan mulutnya yang menetek di susu Teh Mila kemudian pak karta sampai pada klimaksnya, dan menyemburkan spermanya dirahim Teh Mila.

Pak dudung yang kebagian giliran ketiga kemudian mulai menggumuli tubuh seksi Teh Mila, dan terus menggenjotnya dengan kasar ketika batang kontolnya sudah menembus vaginanya. Hingga seterusnya kami berenam selesai mendapatkan gilirannya masing masing, kemudian kembali kami perkosa secara bergantian dengan gaya dan style kami masing masing.

Tubuh Teh Mila yang seksi itu terus kami jadikan sarana pemuas hajat sex kami berenam, hingga pagi menjelang kamipun menyudahinya, dan kemudian meninggalkan tubuh Teh Mila yang masih tergolek tidak sadarkan diri itu, dengan bersimbah cairan sperma kami disekujur tubuh seksinya.
Kamipun berpisah dan kembali kerumah masing masing, dengan perasaan puas telah menggagahi tubuh seksi dan montok Teh Mila, yang sejak kepindahannya kedaerah kami, begitu menggiurkan semua warga khususnya yang laki laki.

Aku yang tinggal disebelah rumah Teh Mila dapat melihat keadaan Teh Mila secara langsung, yang sejak malam perkosaan itu Teh Mila menjadi pemurung. Dan sepertinya Teh Mila tidak mengatakan apa yang sudah dialaminya itu kepada suaminya. Dan akupun sudah mulai kembali menyempatkan waktu untuk sekedar mampir dan bercanda dengan anak anaknya, Teh Mila hanya diam ketika aku datang dan hanya sekedar basabasi yang dipaksakan, setelah perlakuanku kepadanya tempo hari.

Suatu siang ditengah keramaian dan semaraknya pesta hajatan salah seorang warga di gang kami, aku melihat Teh Mila datang sendiri berkondangan, dengan memakai baju kebayanya yang ketat dan kain batiknya yang membalut erat pantatnya yang demplon hingga kemata kakinya. Aku yang melihat kembali terusik birahiku, dan aku tau suaminya tidak bisa ikut kondangan hari itu.

Lalu aku mulai lagi dengan rencanaku untuk bisa merasakan kembali kehangatan tubuh seksinya, kemudian aku pulang kekontrakkanku dan sengaja menunggu Teh Mila pulang dari kondangan, yang pastinya akan melewati jalan didepan kontrakkanku.

Yang kutunggupun tidak lama kemudian datang dan ketika Teh Mila lewat didepan rumah kontrakkanku, secepat kilat kubekap dan kubopong tubuhnya kedalam rumah kontrakkanku, dan segera kututup pintu dengan kakiku. Lalu ku hempaskan tubuh Teh Mila keranjang dan dengan menutup mulutnya, aku bisikkan.

“…maafkan saya Teh…saya kepengen ngerasain lagi…!”

Dan kemudian dengan kasar kulumat bibirnya yang tipis dan bergincu warna pink, dan mulai jilatanku turun ke leher jenjangnya, dan kemudian kuremasi buah dadanya. Teh Mila tidak melakukan perlawanan dia hanya menangis ketika satu persatu kubuka kancing baju kebayanya, dan kemudian kekenyoti buah dada montoknya dengan rakus.

Aku yang sudah begitu bernafsu kemudian menyingkap kain kebayanya yang begitu ketat melilit pantat dan pahanya, dan kutarik keluar CD Teh Mila dan kemudian mulai kutuntun kontolku keliang vaginanya. Dengan beberapakali sodokkan mulailah batang kontolku memasuki gerbang vagina Teh Mila, dan kemudian kugenjot dengan bernafsu.

Genjotanku mulai kupercepat ketika palkonku terasa snut snut ingin segera memuntahkan lahar spermaku, dan akhirnya aku tak kuasa lagi untuk menahan lebih lama, hingga kemudian…

“…aaahhh…ooohhh…The…Milaaaa…aahhh…crot…crot…crot…! ”

Siang bolong itu aku bermandi peluh dengan tubuh Teh Mila yang masih dibawah tubuhku, dan kukecup bibirnya dengan mesra dan kubisikkan.

“…maafkan saya sayang…saya begitu terpesona dengan kecantikkan Teh Mila…!” bisikku didepan wajahnya.

Teh Mila hanya terisak dan menangis lagi, akupun jadi kasihan dan kemudian dengan mesra kupeluk lagi tubuh seksinya, seraya kulumat mesra bibirnya yang tipis itu.

Demikianlah kisah ini kutuliskan dan kuakhiri sampai disini, kasihan Teh Mila kalau harus kuteruskan dengan ide ide dan skenario gila lainnya.

- The End -

itil foundation

itil video review